Sistem manajemen terstruktur dukung peningkatan kualitas ponpes tahfizh

Mudir (direktur) Bidang SDM dan Dakwah Mahad Sabilul Qur’an (MSQ), Ust. Agus Fadilla Sandi (paling kanan) dan pimpinan MSQ, Ubaidillah Al Ihror (kedua kanan), dalam pertemuan dengan redaksi Indonesia Window di Bogor, Jawa Barat, Senin (19/1/2026). (Indonesia Window)
Sistem manajemen ponpes akan menghasilkan data yang akurat sehingga bisa menjadi dasar bagi lembaga pendidikan untuk mengevaluasi kinerja dan terus berupaya meningkatkan kualitas mereka.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Data Kementerian Agama RI (Kemenag) per September-Oktober 2025 menunjukkan jumlah pondok pesantren (ponpes) di Indonesia mencapai 42.391 unit, dengan Jawa Barat menjadi provinsi dengan ponpes terbanyak (12.977), diikuti Jawa Timur (7.347), dan Banten (6.776).
Dengan besarnya angka tersebut, tak sedikit ponpes di Tanah Air masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan kegiatannya sebagai lembaga pendidikan Islam.
Mudir (direktur) Bidang SDM dan Dakwah Mahad Sabilul Qur’an (MSQ), Ustadz Agus Fadilla Sandi, dalam wawancara khusus dengan Indonesia Window baru-baru ini di Bogor, Senin (19/1), menawarkan sistem manajemen ponpes yang komprehensif dan profesional.
“Dengan memiliki dan menerapkan sistem manejemen ponpes secara profesional, insyaa Allah ponpes akan menjadi lembaga yang kuat, yang akan menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas,” ujar mudir Ust. Agus Fadilla.
Lebih lanjut dia mengatakan, MSQ yang merupakan ponpes tahfizh aqil baligh, juga menjalankan kampanye penguatan sistem manajemen lembaga pendidikan Islam, khususnya ponpes tahfizh (menghapal Al’Qur’an) secara profesional.
“Sistem manajemen ponpes ini mencakup sistem kerja ponpes, penyusunan dan pelaksanaan kurikulum yang komprehensif, sistem belajar, dan lainnya,” jelas Ust. Agus Fadilla.
Terkait dengan perkembangan teknologi digital yang semakin marak dan tak terbendung, menurutnya, ponpes harus menyesuaikan kondisi ini dengan turut memanfaatkannya dalam upaya menguatkan lembaga, termasuk mengevaluasi setoran hapalan para santri dan halaqoh (kelompok-kelompok belajar).
“Sayangnya, sistem dan teknologi digital belum banyak diterima dan digunakan oleh ponpes, terutama pondok-pondok tahfizh,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, pimpinan MSQ, Ustadz Ubaidillah Al Ihror, mengatakan sistem manajemen ponpes membantu lembaga pendidikan dalam segala segi dan proses.
“Mulai dari menetapkan kriteria input SDM santri dan guru, merumuskan SOP (Standar Operasional Prosedur) kegiatan, menyusun dan mengembangkan kurikulum, mengevaluasi SDM, hingga memastikan target-target pendidikan tercapai sesuai perencanaan awal,” jelasnya.
Dengan sistem manajemen ini, lanjutnya, tidak akan ada lagi pernyataan-pernyataan skeptikal yang sering dilontarkan kepada santri yang belum bisa mencapai target hapalan, seperti, “memang kemampuan santri ini terbatas”, atau, “mungkin santri itu hanya mampu menghapal sedikit dibandingkan teman-temannya”.
“Sistem manajemen ponpes tahfizh yang diterapkan oleh MSQ memungkinkan para guru untuk selalu mengevaluasi perkembangan santri, serta menemukan masalah yang dihadapi oleh mereka dan solusi untuk mengatasinya,” urai Ust. Ubaidillah.
Dia menekankan, sistem manajemen ponpes akan menghasilkan data yang akurat sehingga bisa menjadi dasar bagi lembaga pendidikan untuk mengevaluasi kinerja dan terus berupaya meningkatkan kualitas mereka.
Ma'had Sabilul Qur'an menawarkan sistem manajemen ponpes tahfzh kepada lembaga-lembaga pendidikan dan pihak-pihak terkait lainnya, dengan harapan dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terbaru

‘Ditolak’ Utsman dan Abu Bakr, dipinang Rasulullah ﷺ
Indonesia
•
07 Jan 2026

Kajian Ilmiah – Pencari nafkah harus yakin kepada Allah ﷻ sebelum mulai bekerja
Indonesia
•
02 Mar 2024

Kajian Ilmiah – Barang apa saja yang diharamkan untuk dijualbelikan?
Indonesia
•
08 Feb 2024

6 langkah mengahafal Al-Qur'an agar mencapai tujuan
Indonesia
•
06 Aug 2022




