Fokus Berita - Ribuan warga masih terjebak di El Fasher, Sudan, di tengah meningkatnya laporan aksi kekejaman

Sejumlah pengungsi duduk di bawah tenda yang terbuat dari batang kayu dan kain di Tawila, Darfur Utara, Sudan, pada 8 Agustus 2025. (Xinhua/Program Pangan Dunia PBB)
Situasi di El Fasher telah terjerumus ke dalam "neraka yang lebih kelam", dengan laporan-laporan kredibel tentang eksekusi massal setelah tentara RSF memasuki kota tersebut.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Ribuan orang masih terjebak di Kota El Fasher, Sudan barat, di tengah meningkatnya laporan aksi kekejaman terhadap warga sipil dan memburuknya krisis kemanusiaan, ungkap badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (30/10).Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyampaikan kekhawatirannya terkait laporan aksi kekejaman di ibu kota Negara Bagian Darfur Utara tersebut usai Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) menguasai kota itu pada akhir pekan."Sumber-sumber setempat melaporkan terjadinya pembunuhan, penculikan, penyiksaan, dan kekerasan seksual yang meluas, serta penangkapan dan pembunuhan pekerja kemanusiaan," urai OCHA. "Ribuan warga sipil masih terjebak di dalam El Fasher. Sementara itu, banyak lainnya telantar di Garni, sekitar 20 kilometer dari El Fasher. Mereka tidak dapat melarikan diri akibat situasi yang tidak aman dan ketiadaan transportasi."OCHA menuturkan bahwa warga yang masih berada di dalam El Fasher menghadapi kekurangan pangan, air, dan perawatan medis yang mengancam jiwa. Para pekerja kemanusiaan dihalangi untuk memasuki kota tersebut.Dewan Keamanan PBB pada Kamis menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya aksi kekerasan di dalam maupun di sekitar El Fasher, serta mengecam serangan yang dilancarkan oleh RSF terhadap kota tersebut beserta dampak buruknya terhadap populasi warga sipil.Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa situasi di El Fasher telah terjerumus ke dalam "neraka yang lebih kelam", dengan laporan-laporan kredibel tentang eksekusi massal setelah tentara RSF memasuki kota tersebut.OCHA menyampaikan bahwa warga sipil yang berhasil melarikan diri dari El Fasher berlindung di tempat terbuka di wilayah Kebkabiya, Melit, dan Tawila, tanpa ketersediaan kebutuhan dasar bagi keluarga-keluarga tersebut."Kondisi di Tawila sangat memprihatinkan," kata OCHA. "Pasokan air bersih hanya memenuhi kurang dari setengah kebutuhan harian, pasar-pasar telah lumpuh, dan persediaan pangan, bahan bakar, serta obat-obatan hampir habis. Penyakit mulai menyebar."Evaluasi yang dipimpin oleh PBB melakukan skrining terhadap 715 anak pengungsi dan menemukan bahwa hampir 60 persen di antara mereka menderita malanutrisi akut.OCHA mengatakan bahwa badan dunia tersebut dan mitra-mitranya sedang meningkatkan upaya respons kendati menghadapi tantangan keamanan dan akses yang sangat besar.Di Tawila, klinik-klinik kesehatan keliling memberikan layanan medis dan nutrisi darurat bagi para pengungsi yang baru tiba. Mitra-mitra kemanusiaan mendirikan pos-pos layanan kesehatan dan nutrisi, menyalurkan perlengkapan kesehatan reproduksi dan pencegahan kolera, serta menyediakan lebih dari 8.000 karton makanan terapeutik, dengan 6.000 karton lainnya masih dalam perjalanan.OCHA mengatakan bahwa lebih dari 30 pos nutrisi tetap beroperasi, sementara dapur umum, distribusi bantuan tunai, dan tempat penampungan sementara terus mendukung keluarga-keluarga pengungsi yang baru tiba. Aktivitas psikososial bagi anak-anak yang terdampak trauma dijadwalkan akan dimulai pekan ini."PBB dan mitra-mitranya juga terus menjalankan operasi air, sanitasi, dan kebersihan di Tawila, Melit, dan area-area di sekitarnya, mengangkut air bersih, memasang toilet darurat, menyalurkan perlengkapan kebersihan, serta melaksanakan kampanye pencegahan kolera," papar OCHA.OCHA memperingatkan bahwa kontaminasi bahan peledak terus membahayakan warga sipil dan pekerja kemanusiaan di dalam maupun di sekitar El Fasher, sehingga membatasi pergerakan yang aman dan menunda bantuan. Akses yang berkelanjutan bagi tim dan peralatan penjinak ranjau sangat dibutuhkan untuk menyurvei dan membersihkan area berbahaya.OCHA menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak agar segera menghentikan permusuhan, melindungi warga sipil dan pekerja kemanusiaan, serta memastikan akses bantuan yang berkelanjutan dan tanpa hambatan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 20.000 warga Australia idap kanker payudara stadium akhir
Indonesia
•
28 Nov 2025

Good Doctor dan LSPR luncurkan serial pendidikan kesehatan bagi anak muda
Indonesia
•
30 Oct 2021

COVID-19 - Lebih 100 pasien di Saudi diobati dengan plasma darah
Indonesia
•
04 Jul 2020

Kisah para insinyur muda yang jadi tulang punggung pembangunan jembatan tertinggi di dunia
Indonesia
•
08 May 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026
