
Studi kaitkan paparan asap karhutla saat kehamilan di Southern California dengan peningkatan risiko autisme

Petugas pemadam kebakaran berjuang untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di Ventura County, California, Amerika Serikat, pada 7 Agustus 2025. (Xinhua/Qiu Chen)
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan selama masa kehamilan di Southern California kemungkinan berkaitan dengan diagnosis autisme yang lebih tinggi pada anak usia dini.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi yang baru dipublikasikan melaporkan adanya kaitan antara paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama masa kehamilan di Southern California dengan kemungkinan diagnosis autisme yang lebih tinggi pada anak usia dini.
Menurut studi yang dipublikasikan secara daring pada Selasa (20/1) di jurnal Environmental Science and Technology, para peneliti menelaah sebuah kelompok kehamilan skala besar di Southern California dan memperkirakan paparan asap karhutla dan materi partikulat halus yang berkaitan dengan kebakaran hutan, PM2.5, yang dialami para ibu di lokasi tempat tinggal mereka selama masa kehamilan dari tahun 2006 hingga 2014. Para peneliti itu kemudian mengaitkan perkiraan paparan tersebut dengan diagnosis autisme hingga usia 5 tahun, menggunakan pemodelan statistik time-to-event.
Studi tersebut melaporkan bahwa keterkaitan itu paling konsisten pada trimester ketiga (kehamilan) dan tampak lebih jelas ketika paparan diukur berdasarkan jumlah hari atau gelombang asap karhutla, dibandingkan jika hanya diukur dari rata-rata konsentrasi PM2.5 akibat karhutla.
Dalam sebuah analisis sensitivitas yang berfokus pada ibu yang tidak berpindah tempat tinggal selama masa kehamilan, studi tersebut melaporkan bahwa paparan asap karhutla selama lebih dari 10 hari pada trimester ketiga, dibandingkan dengan nol paparan, dikaitkan dengan rasio bahaya sebesar 1,225. Studi itu juga mencatat peningkatan yang lebih kecil pada jumlah hari paparan asap yang lebih sedikit.
Temuan tersebut relevan bagi wilayah Los Angeles karena asap karhutla dapat bergerak hingga jarak yang jauh dan memengaruhi komunitas yang posisinya sesuai dengan arah angin, termasuk daerah cekungan Los Angeles, meskipun kebakaran terjadi di luar batas kota.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang lebih luas mengenai polusi udara dan risiko autisme. Sebuah metaanalisis pada 2021 dari Fakultas Kesehatan Masyarakat T.H. Chan Harvard melaporkan risiko autisme yang lebih tinggi dan berkaitan dengan paparan PM2.5, dengan risiko selama masa kehamilan tampak paling kuat pada trimester ketiga.
Sementara itu, para peneliti memperingatkan bahwa meskipun studi observasional dapat mengidentifikasi korelasi, penelitian semacam ini tidak dapat membuktikan bahwa asap karhutla menyebabkan autisme. Estimasi paparan yang didasarkan pada lokasi tempat tinggal tidak dapat sepenuhnya menangkap perilaku individu, seperti waktu yang dihabiskan di dalam ruangan atau penggunaan penyaring udara, dan faktor-faktor lain juga dapat berkontribusi terhadap pola yang ditemukan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Dengan oven antariksa, astronaut China nikmati sayap ayam dan steik di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
05 Nov 2025

Kerja sama teknologi hijau hadirkan manfaat bagi negara-negara mitra BRI
Indonesia
•
10 Nov 2023

Populasi penguin Adelie di lepas pantai Antarktika timur turun drastis
Indonesia
•
12 Oct 2022

Tim ilmuwan China ciptakan terobosan dalam baterai ‘solid-state’ yang lebih tahan lama dan aman
Indonesia
•
28 Oct 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
