
Ekonom Brasil peringatkan pembatasan perdagangan oleh AS dapat percepat fragmentasi ekonomi global

Foto dari udara yang diabadikan pada 3 April 2025 ini menunjukkan suasana sebuah pelabuhan di Rio de Janeiro, Brasil. (Xinhua/Wang Tiancong)
Tarif dan hambatan perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat mengganggu rantai pasokan global dan berpotensi mendorong ekonomi dunia menuju fragmentasi yang lebih dalam pada 2026.
Sao Paulo, Brasil (Xinhua/Indonesia Window) – Tarif dan hambatan perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) mengganggu rantai pasokan global dan berpotensi mendorong ekonomi dunia menuju fragmentasi yang lebih dalam pada 2026, ujar ekonom Brasil Luis Paulino dalam sebuah wawancara dengan Xinhua.Langkah proteksionis dan penarikan diri dari multilateralisme yang dilakukan oleh Washington diperkirakan akan memicu friksi perdagangan yang berkepanjangan, sehingga membebani pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global, tutur Paulino, yang merupakan profesor di Universitas Negeri Sao Paulo sekaligus direktur Institut Konfusius di universitas tersebut.Paulino menyatakan bahwa dampaknya sudah mulai dirasakan di AS, di mana penerapan tarif secara luas telah meningkatkan biaya hidup, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah."Tarif pada dasarnya merupakan pajak atas impor yang umumnya dibayar oleh konsumen dan perusahaan," ujarnya.Secara global, pembatasan perdagangan sedang mengganggu rantai pasokan, meningkatkan biaya produksi, dan menambah tekanan inflasi, demikian peringatan dari profesor tersebut.Dia juga menyoroti pergeseran struktural di mana perusahaan-perusahaan merelokasi produksi mereka ke negara-negara yang secara politik sejalan atau dianggap "lebih aman," sebuah proses yang menurutnya memerlukan investasi besar dan memakan waktu bertahun-tahun untuk dirampungkan.Ke depannya, Paulino memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 secara umum tetap sejalan dengan pertumbuhan pada 2025. Dia juga menyoroti China sebagai pendorong pertumbuhan utama.Target pertumbuhan China yang ditetapkan sekitar 5 persen untuk tahun ini "kemungkinan besar dapat dicapai," tuturnya, sembari menambahkan bahwa kebijakan makroekonomi China dapat membantu menopang kondisi global.Kendati demikian, Paulino memperingatkan bahwa meningkatnya sengketa perdagangan, melemahnya sistem perdagangan berbasis aturan, dan risiko inflasi berkepanjangan dapat terus memperlambat ekspansi ekonomi global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penumpang kereta cepat Whoosh tembus 90.000 orang selama libur Isra Mikraj dan Imlek
Indonesia
•
14 Feb 2024

Bank sentral Inggris turunkan suku bunga acuan jadi 5 persen, pemangkasan pertama dalam 4 tahun
Indonesia
•
03 Aug 2024

‘Cryptocurrency’ akan jadi komoditas legal di Rusia tahun depan
Indonesia
•
09 Dec 2022

Merek-merek China bidik pertumbuhan tingkat lanjut di Jepang
Indonesia
•
14 Feb 2023


Berita Terbaru

Area hutan dunia terus menyusut, target hutan global masih jauh dari memadai
Indonesia
•
12 May 2026
Nafta langka, produsen makanan ringan terkemuka Jepang gunakan kemasan hitam-putih
Indonesia
•
12 May 2026

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026
