
Tarif impor panel surya yang diterapkan AS hambat aksi perangi perubahan iklim

Foto yang diabadikan pada 6 Januari 2017 ini menunjukkan bengkel kerja di pabrik sel surya milik Trina Solar di Provinsi Bac Giang, Vietnam. (Xinhua/Le Yanna)
Tarif impor panel surya yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap empat negara Asia Tenggara akan menghambat upaya global untuk memerangi perubahan iklim dan berdampak negatif pada konsumen AS.
Phnom Penh, Kamboja (Xinhua/Indonesia Window) – Keputusan Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif pada impor panel surya dari empat negara Asia Tenggara akan menghambat upaya global untuk memerangi perubahan iklim dan berdampak negatif pada konsumen Amerika, demikian disampaikan para pakar Kamboja.Kin Phea, direktur jenderal Institut Hubungan Internasional Kamboja, sebuah wadah pemikir di bawah naungan Akademi Kerajaan Kamboja (Royal Academy of Cambodia), menggambarkan langkah tersebut sebagai manifestasi dari pendekatan menang-kalah (zero-sum)."Tarif-tarif ini membahayakan upaya-upaya global untuk memerangi perubahan iklim dan dapat secara signifikan menunda transisi ke sumber-sumber energi terbarukan," katanya kepada Xinhua."Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pengekspor Asia Tenggara, tetapi juga berdampak buruk pada konsumen dan bisnis AS yang bergantung pada teknologi tenaga surya yang terjangkau," tambahnya.Phea mengatakan bahwa pengenaan tarif ini memiliki konsekuensi yang kontraproduktif, merenggangkan hubungan internasional, merusak stabilitas ekonomi dalam negeri, serta menghambat kemajuan untuk mencapai tujuan keberlanjutan lingkungan."Kebijakan ini mencerminkan kesalahpahaman yang mendalam tentang keterkaitan pasar global dan tanggung jawab lingkungan bersama," katanya.Joseph Matthews, seorang profesor senior di Universitas Internasional BELTEI di Phnom Penh, mengatakan bahwa tarif-tarif tersebut gagal melindungi produsen AS sekaligus membebani konsumen."Para importir AS pada akhirnya akan membebankan biaya tersebut kepada para pengecer dan konsumen," katanya. "Pada akhirnya, masyarakat biasa dan pembayar pajak akan menderita."Thong Mengdavid, seorang dosen di Institut Kajian Internasional dan Kebijakan Publik di Royal University of Phnom Penh (RUPP), mengatakan bahwa langkah ini merupakan pedang bermata dua bagi AS."Tarif-tarif ini akan menyebabkan biaya panel surya yang lebih tinggi di AS, dan hal ini, pada gilirannya, dapat memperlambat adopsi energi surya dan meningkatkan biaya untuk konsumen dan bisnis yang berinvestasi dalam proyek-proyek energi terbarukan," katanya.Departemen Perdagangan AS pada Jumat (29/11) mengumumkan putaran tarif baru untuk impor panel surya dari empat negara Asia Tenggara, yaitu Kamboja, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, dengan bea masuk dumping awal berkisar antara 21,31 persen hingga 271,28 persen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Jumlah dan luas kawasan Industri Indonesia terus meningkat dalam lima tahun
Indonesia
•
12 Oct 2020

Selandia Baru tuan rumah KTT pemimpin APEC secara virtual
Indonesia
•
08 Nov 2021

'Skenario bencana jadi nyata'! Penutupan Selat Hormuz tahan ribuan kapal kargo senilai 125 miliar dolar AS
Indonesia
•
24 Jun 2026

Feature – Panel surya tingkatkan pendapatan petani di gurun China
Indonesia
•
31 Aug 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
