
Mahasiswa internasional kembali ke China dengan semangat dan harapan (Bagian 2 - selesai)

Sejumlah pengunjung menyimak informasi tentang proses pembayaran dengan e-CNY (yuan digital) di ekshibisi jasa keuangan dalam Pameran Perdagangan Jasa Internasional China (China International Fair for Trade in Services/CIFTIS) 2022 di Shougang Park di Beijing, ibu kota China, pada 3 September 2022. (Xinhua/Ju Huanzong)
Teknologi digital di China
China terus melakukan terobosan di bidang komunikasi 5G, energi baru, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta bidang ilmiah dan teknologi lainnya selama bertahun-tahun. Ini telah menjadi salah satu faktor penting di balik daya tarik China bagi para pelajar internasional."Dari sudut pandang saya, China berada di garis depan pengembangan ilmu komputer dalam skala global. China merupakan negara dengan penerapan teknologi digital termaju yang pernah saya kunjungi. Infrastruktur digitalnya yang berskala besar sangat mengesankan, dari jaringan 5G terbesar di dunia hingga meluasnya penggunaan kecerdasan buatan di perusahaan-perusahaan terkemuka China," tutur Paula Rodriguez De Viguri Azor, seorang mahasiswa asal Spanyol di South China University of Technology di Guangzhou.Menurut data dari Biro Statistik Nasional China, dana yang digunakan untuk penelitian dan pengembangan di China melampaui 3 triliun yuan pada 2022. Indeks Inovasi Global (Global Innovation Index/GII) 2021, yang dirilis oleh Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO), melaporkan bahwa peringkat indeks inovasi global China terus meningkat selama sembilan tahun berturut-turut, menunjukkan momentum kenaikan yang kuat.Berbicara tentang rencana masa depannya setelah lulus, Paula mengatakan bahwa dirinya bertekad untuk bekerja di perusahaan China atau perusahaan internasional yang memiliki koneksi dengan China.Sebagai kontributor utama ekonomi global, China memiliki potensi besar dalam kerja sama internasional dan peluang bisnis dengan banyak perusahaan dari seluruh dunia, kata Paula, seraya menambahkan bahwa dengan mendorong pertukaran internasional dan meningkatkan sikap saling memahami di antara negara-negara yang berbeda, semakin banyak kawan internasional yang akan jatuh cinta dengan China seperti dirinya.Bagi Alansi, yang akan segera lulus, tujuan utamanya saat ini adalah menyelesaikan tesisnya. Menurut Alansi, yang lebih penting lagi, dirinya berharap dapat lebih memahami industri e-commerce China dan menerapkan pengalamannya untuk karier masa depannya.Alansi mengatakan bahwa dirinya mendirikan toko e-commerce di Yaman tahun lalu untuk menjual kosmetik China. Meski awalnya sulit, berkat model bisnis yang terus mengalami penyesuaian serta dukungan dari teman dan kerabat, toko kecilnya itu dapat menghasilkan keuntungan setelah tujuh bulan beroperasi.Namun demikian, Alansi tidak ingin terburu-buru memperluas penjualan tokonya pada tahap ini. Dia percaya bahwa hal terpenting saat ini adalah belajar lebih banyak tentang model e-commerce China yang sukses dan mengamankan reputasi yang baik bagi tokonya.*1 yuan = 2.193 rupiahLaporan: XinhuaBagikan

Komentar
Berita Terkait

Badan bantuan serukan dana dukung kebutuhan kemanusiaan di Sudan
Indonesia
•
06 May 2023

Tak perlu pajak jika ada zakat
Indonesia
•
25 May 2020

Ikon budaya pop asal China Labubu tampil dalam upacara pembukaan Piala Dunia 2026
Indonesia
•
13 Jun 2026

Prof. Dr. Yolanda Masnita Kembali Jabat Dekan FEB Universitas Trisakti
Indonesia
•
07 Jan 2025


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
