PBB sebut teknologi Juncao China berpotensi penting dalam pencapaian SDG

Foto yang diabadikan pada 31 Mei 2022 ini memperlihatkan jamur yang dibudidayakan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama International NGO Centrolive di Bangui, Republik Afrika Tengah. (Xinhua/Luo Yu)
Teknologi Juncao China memiliki potensi penting untuk berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan karena dapat melindungi lingkungan dan mengatasi tantangan perubahan iklim melalui pengendalian erosi tanah, serta penggunaan rumput Juncao untuk memberi makan ternak.
Kigali, Rwanda (Xinhua) – Teknologi Juncao China memiliki potensi penting untuk berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), demikian disampaikan oleh seorang pejabat PBB kepada Xinhua dalam sesi wawancara baru-baru ini.Amson Sibanda dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (United Nations Department of Economic and Social Affairs/UNDESA) mengatakan bahwa teknologi Juncao merupakan instrumen efektif dan teknologi sederhana yang dapat digunakan oleh semua orang, bahkan seseorang dengan pengetahuan edukasi yang terbatas.Sibanda berbincang dengan Xinhua di sebuah lokakarya regional Afrika yang baru saja rampung di Kigali, ibu kota Rwanda, tentang penerapan teknologi Juncao dan kontribusinya terhadap pencapaian tujuan-tujuan di sektor pertanian berkelanjutan dan pembangunan berkelanjutan di Afrika."Teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," kata Sibanda, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Cabang Pengembangan Kapasitas dan Strategi Nasional di Divisi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan UNDESA, seraya menambahkan bahwa alasan UNDESA mempromosikan teknologi tersebut adalah karena agenda SDG tahun 2030."Kami yakin bahwa teknologi Juncao merupakan salah satu solusi teknologi yang dapat ditransfer melalui kerja sama selatan-selatan guna membantu negara-negara yang ingin mengatasi masalah krisis pangan, tantangan lingkungan, dan pengentasan kemiskinan," ujarnya.
Seorang pakar China membudidayakan jamur bersama masyarakat setempat di Bangui, Republik Afrika Tengah, pada 1 Juni 2022. (Xinhua/Luo Yu)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB serukan negara-negara maju berikan keadilan iklim di Afrika
Indonesia
•
06 May 2023

Sejumlah ahli sebut risiko epidemi mpox di Eropa rendah meski terdapat varian baru
Indonesia
•
20 Aug 2024

Che hun tiau a hien tawarkan sensasi segar khas Pontianak yang ‘bikin nagih’ di siang terik
Indonesia
•
01 Oct 2025

Media: Long COVID buat jutaan warga AS kehilangan kesempatan untuk lanjutkan karier
Indonesia
•
28 Aug 2024
Berita Terbaru

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026

30.000 lebih pekerja layanan kesehatan gelar aksi mogok kerja di California, AS
Indonesia
•
27 Jan 2026
