
Kolaborasi BRIN–Malaysia buka jalan teknologi ‘super mineral’ bebas radioaktif

Ilustrasi. (Kilian Karger on Unsplash)
Teknologi LTJ bebas radioaktif adalah kunci agar Indonesia dan kawasan ASEAN bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri strategis—mulai dari energi bersih, kendaraan listrik, hingga perangkat digital masa depan.
Jakarta (Indonesia Window) – Indonesia makin serius menggarap masa depan energi dan teknologi lewat pengembangan logam tanah jarang (LTJ). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menandatangani kerja sama dengan Greensnow Sdn. Bhd. dari Malaysia untuk mengembangkan teknologi pengolahan deposit ion adsorption clay (IAC) yang merupakan sumber utama LTJ bebas radioaktif.Kerja sama tersebut ditandatangani di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Kamis (30/10), dan menjadi langkah strategis untuk menggabungkan keunggulan dua negara. Malaysia memiliki cadangan bahan baku IAC, sementara Indonesia sudah menguasai teknologi pemisahan LTJ dari unsur radioaktif seperti uranium dan thorium.“Periset kami telah menguasai teknologi pemisahan LTJ dari LTJ hidroksida menjadi LTJ individual, dengan kemurnian uranium dan thorium di bawah 50 ppm dan kapasitas pengolahan hingga 50 kilogram per batch. Ini capaian luar biasa di tingkat pilot scale,” ujar Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Maman Kartaman.Menurutnya, kerja sama ini akan memperkuat posisi Indonesia di rantai nilai global karena teknologi LTJ bebas radioaktif masih langka dan strategis.Sementara itu, Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, menjelaskan bahwa pihaknya bersama Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material tengah memperluas riset pemisahan LTJ tanpa unsur radioaktif.“Kolaborasi ini menjadi langkah nyata penerapan teknologi kunci yang sudah kami kembangkan. Targetnya bukan hanya riset, tapi juga hilirisasi dan penerapan industri,” tegasnya.Dalam tahap berikutnya, hasil riset BRIN akan diterapkan bersama Greensnow untuk membangun pilot plant—fasilitas pengolahan skala percobaan—di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia.CEO Greensnow, Nik Abdul Mubin Bin Nik Mahmood, mengatakan proyek ini sangat penting karena akan menjadi pilot plant pertama di luar China yang mengolah LTJ dari sumber IAC.“Selama ini teknologi tersebut hanya dikuasai China. Melalui kerja sama dengan BRIN, kami berharap Malaysia bisa mandiri dalam teknologi ini,” ujarnya, seraya menambahkan, pihaknya ingin membawa kolaborasi ini hingga tahap hilirisasi, seperti produksi magnet dan material teknologi tinggi lainnya.BRIN menegaskan bahwa penguasaan teknologi LTJ bebas radioaktif adalah kunci agar Indonesia dan kawasan ASEAN bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri strategis—mulai dari energi bersih, kendaraan listrik, hingga perangkat digital masa depan.Logam tanah jarang adalah kelompok 17 unsur kimia penting dalam pembuatan baterai, ponsel, turbin angin, dan kendaraan listrik. Meski namanya ‘jarang’, unsur ini banyak ditemukan dalam bentuk campuran dan sulit dipisahkan—itulah sebabnya riset teknologi pemisahan seperti yang dikembangkan BRIN menjadi sangat berharga.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan sebut ekonomi Jepang berangsur pulih di tengah stagnasi berkepanjangan
Indonesia
•
31 Oct 2024

Langgar aturan keamanan makanan, 7 platform ‘e-commerce’ China didenda 7 triliun rupiah
Indonesia
•
18 Apr 2026

Ladang minyak Tarim pasok lebih dari 50 miliar meter kubik gas alam ke Xinjiang selatan
Indonesia
•
19 Dec 2022

RCEP pastikan stabilitas rantai industri dan rantai pasokan
Indonesia
•
05 Jul 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
