
Tim ilmuwan Australia temukan bukti bentuk langka bintang yang meledak tanpa lubang hitam

Foto yang diabadikan pada 18 Januari 2026 ini memperlihatkan pemandangan planet Jupiter dan rasi bintang Orion di Kota Jiamusi, Provinsi Heilongjiang, China timur laut. (Xinhua/Zhu Zongqiang)
Ada rentang massa terlarang di mana bintang tampaknya tidak membentuk lubang hitam.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi yang dipimpin oleh ilmuwan Australia menemukan bukti adanya bentuk langka dari bintang yang meledak, memberikan wawasan baru mengenai salah satu fenomena paling dahsyat di alam semesta.
Studi itu, yang telah dipublikasikan di dalam jurnal Nature, menggunakan pengamatan gelombang gravitasi untuk menyelidiki akhir hidup bintang-bintang paling masif, sehingga memperkuat bukti adanya "celah terlarang" (forbidden gap) yang telah lama diprediksi dalam massa lubang hitam, demikian menurut pernyataan dari Universitas Monash (Monash University) Australia.
Pada akhir masa hidupnya, sebagian besar bintang masif runtuh tersedot ke dalam lubang hitam, yakni objek dengan gravitasi yang begitu kuat yang bahkan cahaya pun tidak dapat lolos dari daya tariknya. Namun begitu, bintang-bintang yang sangat masif diperkirakan akan menjadi sangat panas hingga meledak dalam fenomena yang disebut "pair-instability supernova", yaitu ledakan yang begitu dahsyat sehingga bintang hancur sepenuhnya tanpa meninggalkan lubang hitam, urai pernyataan tersebut.
Para peneliti mengidentifikasi "rentang terlarang" (forbidden range) dari massa lubang hitam yang berukuran lebih dari 45 kali massa Matahari. Di "rentang terlarang" itu, lubang hitam yang berasal dari bintang sangat jarang ditemukan. Celah atau rentang ini sesuai dengan model-model yang menyatakan bahwa bintang-bintang masif meledak melalui pair-instability dan tidak meninggalkan sisa apa pun.
Pemimpin proyek ini, Tong Hui, yang merupakan kandidat PhD dari Universitas Monash, mengatakan studi ini menemukan adanya rentang massa terlarang di mana bintang tampaknya tidak membentuk lubang hitam.
"Satu-satunya lubang hitam dalam rentang massa ini terbentuk dari penggabungan lubang-lubang hitam yang lebih kecil, bukan terbentuk langsung dari bintang," kata Tong.
Para peneliti mengatakan bahwa konfirmasi terkait keberadaan celah ini akan membantu menjawab pertanyaan besar mengenai bagaimana bintang-bintang paling masif hidup dan mati, serta asal-usul lubang hitam.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China kembangkan material bangunan rendah karbon yang terinspirasi dari cacing laut
Indonesia
•
26 Oct 2023

Proyek megasains China ungkap cetak biru genetik tumbuhan darat
Indonesia
•
14 Feb 2026

Studi sebut hanya 12,6 persen pupuk fosfor anorganik yang diserap oleh tanaman secara global
Indonesia
•
01 Aug 2024

Ekosistem inovasi Shanghai ubah gagasan jadi kenyataan
Indonesia
•
30 May 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
