
‘Matahari buatan’ China capai terobosan, langkah kunci menuju reaktor fusi

Sejumlah staf melakukan peningkatan terhadap Tokamak Superkonduktor Lanjutan Eksperimental (Experimental Advanced Superconducting Tokamak/EAST) di Institut Ilmu Fisika Hefei yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) pada 13 April 2021. (Xinhua/Liu Junxi)
Tokamak Superkonduktor Lanjutan Eksperimental (Experimental Advanced Superconducting Tokamak/EAST), atau ‘matahari buatan’ China, mencapai operasi pembatasan plasma (plasma confinement) tinggi dalam kondisi stabil selama 403 detik.
Hefei, China (Xinhua) – Tokamak Superkonduktor Lanjutan Eksperimental (Experimental Advanced Superconducting Tokamak/EAST), atau ‘matahari buatan’ China, mencapai operasi pembatasan plasma (plasma confinement) tinggi dalam kondisi stabil selama 403 detik pada Rabu (12/4), sebuah langkah kunci menuju pengembangan reaktor fusi.Terobosan yang dicapai setelah lebih dari 120.000 tembakan itu secara signifikan memperbaiki rekor dunia sebelumnya yaitu 101 detik, yang dicatatkan oleh EAST pada 2017.Tujuan akhir dari EAST, yang terletak di Institut Fisika Plasma di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (ASIPP) di Hefei, adalah untuk menciptakan fusi nuklir seperti matahari, menggunakan zat deuterium yang melimpah di laut untuk menyediakan aliran energi bersih yang stabil.Direktur ASIPP Song Yuntao mengatakan kepada Xinhua dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa signifikansi utama dari terobosan ini terletak pada mode pembatasan tinggi.Suhu dan kepadatan partikel telah sangat meningkat selama operasi pembatasan plasma tinggi, yang akan meletakkan dasar yang kuat untuk meningkatkan efisiensi operasional pembangkit-pembangkit listrik fusi di masa depan serta memangkas biaya, ungkapnya.Berbeda dengan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam, yang persediaannya terbatas dan memiliki dampak lingkungan yang besar, "matahari buatan" ini membutuhkan bahan baku yang hampir tidak terbatas di Bumi. Energi fusi dianggap lebih aman serta lebih bersih, dan karenanya merupakan "energi pemungkas" yang ideal bagi masa depan umat manusia.Sejak beroperasi pada 2006, EAST yang dirancang dan dikembangkan China telah menjadi platform uji terbuka bagi para ilmuwan China dan internasional untuk melakukan eksperimen dan penelitian terkait fusi.Saat ini, desain rekayasa untuk Reaktor Uji Rekayasa Fusi China (China Fusion Engineering Test Reactor/CFETR) masa depan, yang dianggap sebagai ‘matahari buatan’ generasi berikutnya, telah rampung dan bertujuan untuk membangun reaktor peragaan fusi pertama di dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Universitas Beihang di China berhasil atasi kegagalan rotor pada ‘drone’ dengan algoritme
Indonesia
•
18 Jan 2024

Kru Shenzhou-17 China akan lakukan ‘spacewalk’ pertama
Indonesia
•
22 Dec 2023

Peneliti BRIN temukan tiga ngengat jenis baru, salah satunya patut diwaspadai petani cengkeh
Indonesia
•
19 Feb 2024

Studi baru ungkap evolusi gurun terluas di China
Indonesia
•
03 Nov 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
