
Laporan BFA sebut transisi energi merupakan kunci pembangunan hijau di Asia

Foto yang diabadikan pada 22 Maret 2024 ini menunjukkan pemandangan Pusat Konferensi Internasional Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) di Boao, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Yang Guanyu)
Transisi energi merupakan kunci untuk merangkul revolusi industri hijau dan mencapai pembangunan hijau di Asia.
Boao, Hainan, China (Xinhua) – Transisi energi merupakan kunci untuk merangkul revolusi industri hijau dan mencapai pembangunan hijau di Asia, menurut sebuah laporan dari Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) yang dirilis pada Selasa (26/3).Laporan tersebut berjudul ‘Pembangunan Berkelanjutan: Laporan Tahunan Asia dan Dunia 2024 - Menuju Era Listrik Nol Karbon dan Memperkuat Pembangunan Hijau di Asia’ (Sustainable Development: Asia and the World Annual Report 2024--Striding towards Zero-Carbon Electricity Era and Bolstering Green Development in Asia).Laporan itu menyebut bahwa munculnya kekuatan produktif yang berkualitas baru, seperti pemanfaatan sumber daya terbarukan, peningkatan efisiensi energi, dan elektrifikasi sektor-sektor end-use, akan memunculkan industri baru dan menciptakan berbagai peluang kerja yang besar.Pasar global untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV), energi surya dan bayu, hidrogen hijau, dan lebih dari puluhan teknologi ramah lingkungan lainnya diproyeksikan mencapai 2,1 triliun dolar AS pada 2030, lima kali lipat dari ukuran pasar saat ini, kata laporan tersebut seraya mengutip prediksi dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development/UNCTAD).Sistem tenaga listrik nol karbon (zero-carbon) merupakan landasan dalam mengatasi perubahan iklim, dan transisi menuju tenaga listrik zero-carbon membutuhkan dukungan kebijakan, desain mekanisme pasar, serta partisipasi kolektif seluruh masyarakat.Mekanisme penetapan harga listrik berbasis pasar dapat memberikan dorongan yang kuat untuk transisi ini dengan menstimulasi investasi, pengembangan, dan konsumsi energi terbarukan, katanya.Asia memiliki potensi besar untuk membangun sistem tenaga listrik zero-carbon mengingat permintaannya yang sangat besar untuk konsumsi energi.Selama lima tahun terakhir, China, Jepang, India, dan negara-negara Asia lainnya menduduki peringkat teratas dalam investasi energi bersih global, bertindak sebagai akselerator investasi energi bersih global, kata laporan tersebut.Namun, laporan tersebut juga menyatakan bahwa banyak negara berkembang di Asia yang sangat membutuhkan investasi berskala besar dalam teknologi ramah lingkungan dan industri rendah karbon.*1 dolar AS = 15.795 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Nilai total 100 merek teratas China capai 1,24 triliun dolar AS pada 2022
Indonesia
•
26 Aug 2022

Perdagangan produk pertanian China-ASEAN kian berkembang, lengkapi pasar satu sama lain
Indonesia
•
23 Jan 2025

Apple laporkan hasil Q4 dengan penurunan pendapatan dan pertumbuhan laba bersih
Indonesia
•
03 Nov 2023

Industri mobil Jerman tolak tarif UE terhadap kendaraan listrik China
Indonesia
•
07 Jul 2024


Berita Terbaru

Area hutan dunia terus menyusut, target hutan global masih jauh dari memadai
Indonesia
•
12 May 2026

Nafta langka, produsen makanan ringan terkemuka Jepang gunakan kemasan hitam-putih
Indonesia
•
12 May 2026

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026
