
Praktisi: UMKM berisiko tinggi, perlu terapkan "SOP" untuk tingkatkan kualitas produk

Direktur Utama PT Sarira Group Indonesia, Syafei, dalam sebuah diskusi di Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/9/2024). (Indonesia Window)
UMKM memiliki risiko tinggi dalam hal proses produksi dan menjaga kualitas produk (quality control), padahal sektor ini berpotensi mengubah ekonomi, mendorong penciptaan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil jika diberikan dukungan yang memadai.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang mencakup 90 persen bisnis, menyediakan lebih dari 70 persen lapangan pekerjaan, dan 50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) di seluruh dunia, telah menjadi inti perekonomian bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia.Namun demikian, menurut praktisi bisnis Syafei, UMKM memiliki risiko tinggi dalam hal proses produksi dan menjaga kualitas produk."Contoh sederhana adalah produksi pastel skala rumah tangga. Gorengan tahap pertama pasti hasilnya bagus, dengan warna golden brown dan sebagainya. Dan ini biasanya yang dipakai untuk foto produk. Tapi hasil gorengan selanjutnya biasanya tidak sama bagus seperti yang pertama," ujarnya di Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.Hal tersebut, lanjutnya, disebabkan UMKM belum memiliki Standard Operating Procedure (SOP) dalam proses produksi mereka."Kebanyakan UMKM belum memiliki SOP untuk menjaga kualitas produk, sehingga ini bisa menjadi risiko bagi pembeli dan memengaruhi jalannya bisnis pengusaha," ujar Syafei yang juga merupakan Direktur Utama PT Sarira Group Indonesia itu.Menurut dia, menjaga kualitas produk UMKM dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. “Misalnya, pelaku usaha bisa memajang foto pastel terbaik mereka di tembok dapur sebagai acuan saat menggoreng pastel. Atau saat produksi kue lemper, porsi ketan harus ditimbang, bukan dikira-kira sebesar kepalan tangan.”Selain aspek produksi, pemodalan, pemasaran, penjualan, dan lainnya, para pelaku UMKM juga harus memperhatikan kualitas produk mereka agar tetap bisa memenuhi keinginan konsumen dan mempertahankan eksistensinya, ujar Syafei.
Seorang pengunjung berbelanja produk makanan khas Jawa Tengah yang diproduksi oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di fasilitas 'rest area' KM 260B Banjaratma, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada 16 Maret 2022. (Indonesia Window)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Gelombang panas hantam Timur Tengah, beban pemakaian listrik kian melonjak
Indonesia
•
28 Jul 2024

Arab Saudi umumkan rekor belanja tertinggi oleh pengunjung ‘inbound’ pada 2023
Indonesia
•
01 Apr 2024

China targetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pada 2025
Indonesia
•
06 Mar 2025

BI catat utang luar negeri Indonesia turun jadi 406,3 miliar dolar AS per Mei
Indonesia
•
15 Jul 2022


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
