UNICEF laporkan peningkatan kasus kematian akibat kolera di 11 negara Afrika

Foto dari udara yang diabadikan pada 18 Januari 2023 ini memperlihatkan perkampungan kumuh Kibera di Nairobi, ibu kota Kenya. Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Kenya mengumumkan wabah kolera di sejumlah county. Dalam beberapa hari terakhir, penyakit ini menyebar ke area-area lainnya akibat standar kebersihan yang buruk. (Xinhua/John Okoyo)
Wabah kolera di Afrika bagian timur dan selatan saat ini mencakup 11 negara, dengan 67.822 kasus dan perkiraan 1.788 kematian, namun angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena keterbatasan dalam sistem pengawasan, pelaporan kasus dengan jumlah lebih sedikit, dan stigma menghambat pemantauan.
Nairobi, Kenya (Xinhua) – Sebanyak 11 negara di Afrika timur dan selatan saat ini mengalami peningkatan eksponensial dalam kasus kolera di tengah lonjakan kematian, kata Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada Jumat (10/3).UNICEF mengatakan 11 negara mengalami wabah kolera yang sangat mengkhawatirkan dengan 67.822 kasus dan perkiraan 1.788 kematian. Disebutkan pula bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena keterbatasan dalam sistem pengawasan, pelaporan kasus dengan jumlah lebih sedikit, dan stigma menghambat pemantauan.Wakil Direktur Regional UNICEF Lieke van de Wiel mengatakan kualitas air dan sanitasi yang buruk, peristiwa cuaca ekstrem, konflik yang sedang berlangsung, dan sistem kesehatan yang lemah memperparah dan membahayakan nyawa anak-anak di seluruh Afrika bagian selatan."Kami pikir wilayah ini tidak akan menghadapi wabah kolera yang meluas dan mematikan seperti ini di era ini," katanya dalam pernyataan yang dirilis di Nairobi, ibu kota Kenya.UNICEF sedang mengajukan permohonan bantuan sebesar 150 juta dolar AS untuk seluruh 11 negara yang dilanda wabah kolera di kawasan itu, termasuk 34,9 juta dolar untuk Malawi dan 21,6 juta dolar untuk Mozambik, guna menyediakan layanan penyelamatan nyawa bagi total 5,4 juta orang yang terdampak oleh wabah tersebut.UNICEF mengatakan situasi kesehatan masyarakat memburuk dengan cepat, terutama di negara-negara yang terdampak paling parah.
Para petugas lingkungan mendisinfeksi diri setelah mendisinfeksi jasad di rumah sakit Bwaila di Lilongwe, Malawi, pada 17 Januari 2023. (Xinhua/Roy Nkosi)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Feature – Teknologi tenaga surya China bantu terangi kamp pengungsi di Kenya
Indonesia
•
02 Jul 2024

Menteri Uni Eropa bahas tantangan migrasi dari negara ketiga
Indonesia
•
27 Jan 2023

Prof. Dr. Yolanda Masnita Kembali Jabat Dekan FEB Universitas Trisakti
Indonesia
•
07 Jan 2025

Remaja di China dihukum penjara seumur hidup buntut bunuh teman sekelas
Indonesia
•
31 Dec 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Kasus bunuh diri anak di Jepang catat rekor tertinggi pada 2025
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026
