
Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia

Foto yang diabadikan pada 5 Oktober 2025 ini menunjukkan ombak tinggi di daerah pesisir di Haikou, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Guo Cheng)
Perubahan iklim di Asia dipengaruhi oleh sejumlah sistem sirkulasi skala besar, termasuk monsun barat lintang menengah, monsun musim panas Asia Timur dan Asia Selatan, serta monsun musim dingin Asia Timur.
Lanzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil mengungkap faktor-faktor yang mendorong perubahan iklim yang beragam di seluruh Asia selama 130.000 tahun terakhir, menandai kemajuan dalam studi tentang akumulasi debu, evolusi kelembapan, serta mekanisme pendorong pada skala multispasial dan temporal di Asia, menurut Universitas Lanzhou.
"Dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, studi ini memberikan tolok ukur skala waktu jangka panjang untuk memprediksi tren perubahan iklim di masa depan," ujar Li Guoqiang, profesor di Fakultas Ilmu Bumi dan Lingkungan Universitas Lanzhou, kepada Xinhua.
"(Studi) itu juga menawarkan dasar ilmiah yang signifikan untuk menganalisis tren pengeringan di Asia, perubahan pola curah hujan, serta risiko aktivitas debu di tengah kondisi pemanasan global," imbuhnya.
Perubahan iklim di Asia dipengaruhi oleh sejumlah sistem sirkulasi skala besar, termasuk monsun barat lintang menengah, monsun musim panas Asia Timur dan Asia Selatan, serta monsun musim dingin Asia Timur. Fluktuasi kekuatan dan kelemahan sistem-sistem iklim ini serta interaksinya telah secara mendalam membentuk pola hidroklimatik di kawasan tersebut dan berdampak luas terhadap lingkungan hidup masyarakat serta perkembangan sosial.
Sebelumnya, terdapat kontroversi yang cukup besar mengenai proses evolusi dan mekanisme pendorong berbagai sistem iklim, serta dampaknya terhadap perbedaan spasial perubahan iklim di Asia, menurut Li.
Urutan loess-paleosol di seluruh Asia menyediakan sebuah arsip penting mengenai deposisi debu di masa lalu dan dinamika iklim yang dibentuk oleh angin barat dan monsun Asia. Dengan menerapkan sebuah teknologi baru penanggalan luminesensi inframerah feldspar kalium, tim studi itu secara sistematis menyusun skala penanggalan beresolusi tinggi untuk lebih dari 20 urutan loess-paleosol di kawasan kering Asia Tengah dan Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.
Bekerja sama dengan para peneliti dari 30 lebih universitas dan institusi di dalam dan luar China, tim studi tersebut menyusun dan merilis kumpulan data pertama di dunia mengenai penanggalan luminesensi Loess Asia dan indikator proksi paleoiklim, memberikan basis data yang penting untuk melakukan penelitian komprehensif pada skala benua Asia.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa akumulasi debu di Asia bukan respons tunggal terhadap variasi kekuatan angin musim dingin. Akumulasi loess di berbagai kawasan dipengaruhi secara bersamaan oleh berbagai faktor, termasuk pasokan material, cakupan vegetasi, topografi setempat, fluktuasi tingkat permukaan laut, dan aktivitas manusia.
Sementara itu, ketidakberlanjutan strata sedimen loess tersebar luas di berbagai kawasan Asia pada akhir Periode Kuarter akhir, dan erosi angin kemungkinan menjadi penyebab utamanya, menurut hasil studi tersebut.
"Studi kami untuk pertama kalinya secara komprehensif merekonstruksi sejarah akumulasi debu dan perubahan kelembapan di Asia selama 130.000 tahun terakhir dalam skala benua. Hal ini memberikan bukti penting baru untuk memahami proses perubahan iklim dan mekanisme pendorongnya di Asia pada berbagai skala waktu," ujar Li.
Studi ini juga telah memperdalam pemahaman mengenai mekanisme yang mendasari evolusi sistem iklim Asia secara lebih ilmiah. Sementara itu, studi ini juga menetapkan urutan acuan penting terkait kelembapan dan curah hujan untuk menilai evolusi jangka panjang sistem iklim, menurut Li.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi luncurkan fasilitas manufaktur komposit
Indonesia
•
12 Nov 2021

Ilmuwan temukan gen kunci tingkatkan ketahanan jagung terhadap ‘root lodging’
Indonesia
•
07 Apr 2023

Fosil telur dinosaurus terkecil di dunia ditemukan di China
Indonesia
•
21 Oct 2024

Ahli biologi China temukan material nano baru untuk tingkatkan fotosintesis tanaman
Indonesia
•
11 Mar 2025


Berita Terbaru

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026
