10 korban tewas dalam amburuknya musala Ponpes Al Khoziny herhasil dievakuasi

ambruknya musala ponpes al

Sebuah foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan bangunan yang runtuh di Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, pada 2 Oktober 2025. (Xinhua/Sahlan Kurniawan)

Tim SAR terus mengevakuasi korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny meski kondisi reruntuhan berisiko.

Sidoarjo, Jawa Timur (Indonesia Window) – Memasuki hari kelima atau Jumat (3/10), insiden ambruknya gedung musala Pondok Pesantren (ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tim pencarian dan pertolongan (search and rescue-SAR) gabungan kembali menemukan lima korban dalam kondisi meninggal dunia.

Kelima jenazah itu segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya untuk identifikasi dan penanganan lebih lanjut.

Penemuan jenazah itu sekaligus menambah jumlah korban meninggal dunia menjadi 10 orang, sejak hari pertama kejadian.

Di sisi lain, jumlah korban yang masih dalam proses pencarian ada sebanyak 54 orang. Data ini berdasarkan daftar santri yang dirilis oleh pihak pondok pesantren.

Upaya pencarian dan pertolongan dilakukan secara terpadu oleh Basarnas, TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, Dinas Sosial Taruna Tanggap Bencana (Tagana), Dinas PU dan SDA, serta relawan sebanyak lebih dari 400 orang selama 24 jam bergantian.

Tim telah melaksanakan re-assessment dengan metode fisik, pemanggilan suara, hingga penggunaan peralatan khusus seperti search cam flexible olympus, xaver 400 wall scanner, dan multi search leader.

Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terdeteksi dari bawah reruntuhan gedung. Oleh karena itu, proses pencarian difokuskan pada evakuasi dan pembersihan menggunakan alat berat.

Dalam pelaksanaannya, seluruh langkah di lapangan dilakukan dengan penuh perhitungan agar tidak menimbulkan risiko tambahan dalam proses evakuasi jenazah.

Sejalan dengan itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim juga melakukan kaji cepat di lokasi kejadian dan mendata kebutuhan dasar para korban serta keluarga yang terdampak.

“Lebih dari 400 personel tim SAR gabungan bekerja siang dan malam selama 24 jam,” ungkap Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, dari posko darurat BNPB, Buduran, Sidoarjo, Jumat.

Seluruh pihak keluarga korban pun sudah menghendaki penggunaan alat berat ini meskipun ada kemungkinan dapat mengganggu kondisi jenazah selama proses pencarian.

Para keluarga korban juga sudah merelakan dan mengikhlaskan semua hal, setelah sehari sebelumnya mereka diberikan penjelasan bahwa dipastikan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di balik reruntuhan bangunan lantai empat itu.

“Seluruh pihak keluarga korban sudah merelakan dan mengikhlaskan apabila kemudian alat berat ini masuk akan mengganggu kondisi jenazah di bawah reruntuhan,” ungkap Suharyanto.

Kepala BNPB juga menyampaikan bahwa kemungkinan ditemukannya korban meninggal masih ada, seiring dengan upaya pencarian yang terus dimaksimalkan.

Selanjutnya, perkembangan hasil penemuan oleh tim SAR gabungan di lapangan akan dihimpun dan disampaikan melalui posko BNPB secara berkala tiga kali sehari, yakni pada pukul 06.00, 12.00, dan 18.00 WIB.

“Potensi penemuan jenazah akan ada lagi. Nanti akan kita sampaikan ke depannya,” ungkap Kepala BNPB.

Adapun data sementara yang telah dihimpun per Jumat (3/10) pukul 11.45 WIB, secara keseluruhan, jumlah korban terdampak mencapai 166 orang dan data ini masih terus berkembang seiring proses pencarian.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 111 orang telah ditemukan, sementara sekitar 54 orang masih dalam pencarian.

Adapun rincian kondisi korban meliputi 14 orang dirawat inap di sejumlah rumah sakit, 89 orang telah diperbolehkan pulang dan 10 orang dinyatakan meninggal dunia.

Korban yang dirawat tersebar di berbagai fasilitas kesehatan, antara lain RSUD RT Notopuro Sidoarjo, RS Siti Hajar, RS Delta Surya, RS Sheila Medika, RS Unair, Klinik BDS Tebel, RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya, dan RS Sakinah Mojokerto. Dari catatan medis, sebagian besar pasien telah pulang, sebagian masih menjalani perawatan inap, dan terdapat beberapa korban meninggal dunia di masing-masing fasilitas kesehatan tersebut.

Sementara itu, terdapat pula korban yang kembali ke rumah tanpa memerlukan penanganan medis lanjutan, serta beberapa korban berhasil ditemukan selamat oleh tim SAR gabungan.

BNPB memberikan dukungan penuh terhadap operasi ini, termasuk pengiriman peralatan evakuasi berupa 200 kantong jenazah, 200 pasang sarung tangan, 4.000 masker, 250 set alat pelindung diri (APD) dan dukungan lainnya sesuai kebutuhan lapangan.

Selain itu, BNPB juga menyediakan insentif operasional bagi para personel tim gabungan yang terlibat dalam proses evakuasi selama tujuh hari.

Dukungan alat berat dan kendaraan operasional SAR lainnya turut dikerahkan untuk mempercepat proses pembersihan, antara lain tiga unit crane, satu unit excavator breaker, 30 unit dump truck, empat set alat pemotong beton dan 30 unit ambulans.

Anggaran operasional peralatan berat tersebut juga telah disiapkan BNPB untuk menunjang proses evakuasi yang diperkirakan berlangsung selama sepekan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait