
Analisis – Perang berhenti sejenak, namun perdamaian Timur Tengah masih jauh

Seorang anak perempuan menyalakan lilin dalam acara peringatan yang digelar untuk mengenang para siswa sekolah dasar yang tewas akibat serangan rudal di bagian selatan Iran di Teheran, Iran, pada 6 April 2026. (Xinhua/Shadati)
Inti dari krisis di Timur Tengah saat ini adalah penggunaan kekuatan secara ilegal oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang telah ditetapkan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dunia bernapas lega secara kolektif saat Amerika Serikat (AS) dan Iran menarik diri dari ambang perang skala penuh dan berkomitmen untuk melakukan negosiasi tingkat tinggi selama dua pekan.
Namun, di balik jeda sementara ini, terdapat berbagai tantangan besar yang menanti. Keberhasilan akhir dari perundingan ini akan bergantung pada apakah AS dan Israel akan menunjukkan komitmen nyata terhadap perdamaian.
Inti dari krisis saat ini adalah penggunaan kekuatan secara ilegal oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang telah ditetapkan.
Selama 40 hari terakhir, dunia terpaksa menyaksikan dampak perang yang mengerikan, mulai dari hilangnya nyawa dalam jumlah besar, kehancuran infrastruktur vital, hingga lonjakan harga minyak yang tak terkendali, yang menimbulkan guncangan di pasar energi global dan mengancam stabilitas ekonomi lintas benua.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kekuatan militer tidak pernah menghasilkan solusi yang langgeng. Sebaliknya, hal tersebut justru memicu permusuhan yang lebih mendalam, memperlebar jurang perbedaan yang sudah ada, dan menyulut siklus kekerasan yang terus berulang. Satu-satunya jalan menuju stabilitas dan perdamaian yang kekal terletak pada resolusi politik dan negosiasi yang bermakna.
Selama periode dua pekan yang krusial ini, AS dan Israel harus memenuhi komitmen mereka dan menahan diri dari eskalasi militer lebih lanjut terhadap Iran. Setiap pelanggaran kepercayaan hanya akan memperburuk kesulitan mendalam dari krisis ini, yang secara fatal merusak prospek tercapainya perdamaian yang kekal.
Sangat penting bagi masyarakat internasional untuk tetap terlibat dan mengadvokasi negosiasi yang tulus. Upaya untuk mengamankan resolusi permanen dari penghentian sementara pertempuran ini membutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk memprioritaskan penyelesaian diplomatik di atas eskalasi militer.
Sejak pecahnya pertempuran, China mempertahankan sikap objektif, tidak memihak, dan seimbang, serta bekerja tanpa lelah untuk memfasilitasi gencatan senjata. Baru-baru ini, China dan Pakistan bersama-sama mengusulkan inisiatif lima poin, kerangka kerja yang mencerminkan konsensus internasional yang luas mengenai deeskalasi dan resolusi konflik.
Perdamaian dapat diraih dengan perjuangan, sementara konsensus sangatlah berharga. Dimulainya perundingan ini mewakili kemenangan rasionalitas atas kecerobohan. Namun, kemenangan sejati terletak pada penghapusan ‘hukum rimba’, sikap menjunjung tinggi multilateralisme, penghormatan terhadap hukum internasional, serta kepatuhan terhadap prinsip-prinsip fundamental yang tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hanya melalui upaya bersama inilah dunia dapat menghalau awan gelap peperangan serta menjaga perdamaian dan stabilitas, baik di kawasan maupun di seluruh dunia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Haji 1441 - Pemimpin Muslim beri selamat kepada Raja Salman atas kesuksesan penyelenggaraan haji
Indonesia
•
01 Aug 2020

Presiden Iran akui sangat sulit berkomunikasi dengan pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei di tengah perang
Indonesia
•
06 Aug 2026

COVID-19 – Kementerian kesehatan Jepang setujui obat oral buatan Pfizer
Indonesia
•
11 Feb 2022

Lebih dari 1.300 petugas layani pengunjung Masjidil Haram
Indonesia
•
07 Nov 2021


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
