
Apa itu Panda Bond yang akan diterbitkan Indonesia? Ini dampaknya bagi APBN dan ekonomi RI

Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Keuangan China Lan Fo'an bertemu di Beijing pada 17 Juni 2026, dengan salah satu agendanya adalah membahas rencana penerbitan Panda Bond oleh pemerintah Indonesia. (Sumber foto: Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China belakangan semakin memperdalam kerja sama di sektor keuangan, dimulai dengan penguatan kerja sama moneter dan keuangan antara bank sentral kedua negara pada awal bulan ini, hingga rencana penerbitan obligasi pemerintah berdenominasi yuan China, Panda Bond, dalam waktu dekat untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagai bagian dari persiapan penerbitan Panda Bond, Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Purbaya Yudhi Sadewa berkunjung ke China pada pekan ini untuk bertemu dengan sejumlah investor, termasuk dengan kementerian keuangan, bank sentral, hingga bank pembangunan multilateral. Tak hanya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, penerbitan Panda Bond disebut sebagai upaya strategis untuk mendukung diversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas basis investor.
Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan Dim Sum Bond, yakni obligasi berdenominasi yuan China yang diterbitkan di pasar offshore. Pemerintah berhasil menghimpun dana sebesar CNH 6 miliar atau sekitar 6 miliar yuan China dalam penerbitan perdana Dim Sum Bond pada Oktober 2025 dan CNH 9,25 miliar pada Februari 2026.
*1 yuan = 2.627 rupiah
Kementerian Keuangan RI mengatakan kunjungan ke China tersebut juga bertujuan untuk memperluas jejaring kemitraan strategis dan membuka peluang kerja sama pembiayaan yang lebih luas. Purbaya melaporkan bahwa salah satu hasilnya adalah keberhasilan untuk mengamankan komitmen dukungan pembiayaan multitahun dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) senilai 17 miliar dolar AS untuk periode 2025-2029.
*1 dolar AS = 17.753 rupiah
Di sisi lain, penguatan kerja sama keuangan juga belum lama ini berlangsung antara bank sentral kedua negara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi di Shanghai, China, pada 11 Juni. Salah satu hasilnya adalah kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) untuk menjajaki peningkatan nilai kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA).
Kerja sama lainnya meliputi penguatan Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup Daerah Administratif Khusus (Special Administrative Region/SAR) Hong Kong di China, peluncuran implementasi pembayaran QR lintas perbatasan Indonesia-China, penetapan Bank Mandiri sebagai peserta langsung dalam sistem pembayaran lintas perbatasan China (CIPS), serta rencana pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.
"Komitmen BI dan PBOC dalam mendorong integrasi ekonomi dan keuangan melalui perluasan konektivitas sistem pembayaran serta pengembangan pasar keuangan yang lebih efisien, inklusif, dan tangguh akan semakin memperkuat stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem keuangan di kedua negara," demikian dikutip dari keterangan resmi BI.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Harga batu bara Februari naik menjadi 87,79 dolar AS per ton karena ‘commodity super cycle’
Indonesia
•
05 Feb 2021

OPEC+ akan tingkatkan ‘output’ minyak pada November 2025
Indonesia
•
06 Oct 2025

Kartu berlangganan Whoosh kian populer, cerminkan kepercayaan masyarakat
Indonesia
•
26 May 2025

Vivo Mall Bogor dukung UMKM naik kelas, tak ada biaya sewa, tawarkan bagi hasil
Indonesia
•
02 Sep 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
