Trump tanda tangani rencana untuk berlakukan tarif ‘resiprokal’ pada mitra dagang

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, pada 4 Februari 2025. (Xinhua/Hu Yousong)
Tarif resiprokal yang setara terhadap setiap mitra dagang asing AS akan merusak prinsip tradisional dari keseimbangan menyeluruh di bawah kerangka kerja WTO, yang berpotensi menyebabkan friksi perdagangan dan kebuntuan negosiasi, serta mendorong negara-negara lain untuk mengambil aksi balasan demi merespons kenaikan tarif negara tersebut.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (13/2) menandatangani sebuah memorandum yang mengarahkan pemerintahannya untuk menentukan "tarif resiprokal yang setara terhadap setiap mitra dagang asing.""Saya telah memutuskan demi keadilan, bahwa saya akan mengenakan tarif resiprokal, yang berarti berapa pun tarif yang dikenakan negara-negara lain kepada AS, kami akan mengenakan tarif yang setara, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan kata lain, mereka mengenakan pajak atau tarif kepada kami dan kami mengenakan pajak atau tarif yang setara kepada mereka. Sangat sederhana," kata Trump di Gedung Putih.Menurut memorandum tersebut, "ini adalah kebijakan AS untuk mengurangi besarnya defisit perdagangan tahunan kami yang besar dan persisten pada barang serta untuk mengatasi aspek-aspek lain yang tidak adil dan tidak seimbang dalam perdagangan kami dengan mitra dagang asing."Berdasarkan apa yang disebut sebagai "Rencana yang Adil dan Resiprokal," pemerintah akan bekerja "keras" menentang pengaturan perdagangan non-resiprokal dengan mitra-mitra dagang dengan cara menentukan tarif resiprokal yang setara untuk masing-masing mitra dagang asing. "Pendekatan ini akan memiliki cakupan yang komprehensif, mengkaji hubungan perdagangan non-resiprokal dengan semua mitra dagang AS," ungkap rencana tersebut.Menurut negosiasi Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), "resiprositas" berarti keseimbangan yang menyeluruh, dalam hal konsesi yang diberikan dan konsesi yang diterima, antara masing-masing negara di satu sisi dan semua mitra dagangnya di sisi lain. Akan tetapi, Trump mendefinisikan ulang makna "resiprositas" untuk diterapkan secara linear, negara per negara, alih-alih keseimbangan yang menyeluruh, ungkap Gary Clyde Hufbauer, seorang senior fellow nonresiden di Peterson Institute for International Economics, kepada Xinhua."Dengan resiprositas, sebagaimana didefinisikan oleh Trump, tarif AS mungkin rata-rata akan naik 10 hingga 15 poin persentase. Menurut pendapat saya, tarif justru merugikan ekonomi AS. Jadi, meski tarif akan meningkatkan pendapatan ... tarif akan mengurangi pertumbuhan PDB," kata Hufbauer.Para pengamat percaya bahwa logika Trump tersebut merusak prinsip tradisional dari keseimbangan menyeluruh di bawah kerangka kerja WTO, yang berpotensi menyebabkan friksi perdagangan dan kebuntuan negosiasi, serta mendorong negara-negara lain untuk mengambil aksi balasan demi merespons kenaikan tarif AS.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Uang beredar tumbuh positif pada Agustus 2022
Indonesia
•
23 Sep 2022

Penjualan mobil penumpang di China naik pada Desember 2022
Indonesia
•
11 Jan 2023

Feature – Menilik perkembangan industri cabai di Zunyi, China barat daya
Indonesia
•
22 Oct 2024

Provinsi Hebei China tingkatkan 1.000 perusahaan jadi perusahaan hijau
Indonesia
•
04 Jan 2022
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
