Majelis Kesehatan Dunia kembali tolak proposal terkait Taiwan

Badan pembuat keputusan tertinggi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan untuk tidak memasukkan apa yang disebut sebagai proposal partisipasi Taiwan di majelis tahunan WHA sebagai pengamat ke dalam agendanya.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA), badan pembuat keputusan tertinggi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin (19/2) memutuskan untuk tidak memasukkan apa yang disebut sebagai proposal partisipasi Taiwan di majelis tahunan WHA sebagai pengamat ke dalam agendanya.Berbicara di majelis tersebut, Chen Xu, perwakilan tetap China untuk Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa dan organisasi internasional lainnya di Swiss, mengatakan bahwa tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Antifasis Dunia serta peringatan 80 tahun pemulihan dan kembalinya Taiwan ke China. Dia juga menyampaikan bahwa kembalinya Taiwan merupakan bagian integral dari kemenangan dalam Perang Dunia II dan tatanan internasional pascaperang."Resolusi Majelis Umum PBB 2758 dan Resolusi Majelis Kesehatan Dunia 25.1 sejak lama telah menyelesaikan isu representasi China, termasuk Taiwan, secara komprehensif dan konklusif. WHA selama beberapa tahun berturut-turut menolak apa yang disebut sebagai proposal terkait Taiwan, yang dengan demikian menjunjung tinggi otoritas PBB dan tatanan internasional pascaperang. Fakta telah membuktikan bahwa jalur menuju 'kemerdekaan Taiwan' adalah jalan buntu," urai Chen Xu.Chen berkata masalah Taiwan adalah urusan dalam negeri China sekaligus merupakan isu yang tersisa dari perang saudara China. Meskipun kedua pihak di Selat Taiwan belum bersatu kembali, status hukum dan faktual Taiwan sebagai bagian dari China tidak pernah berubah.Chen menyampaikan bahwa 183 negara telah menjalin hubungan diplomatik resmi dengan China berdasarkan prinsip Satu China. Menjelang sesi WHA tahun ini, banyak negara mengirimkan surat kepada WHO untuk menegaskan kembali dukungan mereka terhadap prinsip tersebut. Hal ini sepenuhnya menunjukkan bahwa prinsip Satu China mencerminkan konsensus yang luas dari komunitas internasional.Pemerintah pusat China selalu memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan para kompatriot di Taiwan. Asalkan prinsip Satu China dihormati, para pakar teknis dari Provinsi Taiwan tidak akan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan WHO, papar Chen.Klaim tentang apa yang disebut sebagai "kesenjangan" dalam sistem pencegahan pandemik internasional tidak sesuai dengan fakta dan sepenuhnya merupakan bentuk manipulasi politik, ujar Chen.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Saudi beri perhatian pada hak-hak perempuan
Indonesia
•
13 Nov 2019

KTT ASEAN-GCC ke-2 buka jalan bagi peningkatan kolaborasi antarkawasan dan penguatan resiliensi
Indonesia
•
29 May 2025

Otoritas Palestina siap operasikan perlintasan Rafah sesuai perjanjian 2005
Indonesia
•
28 Jan 2026

COVID-19 – Pfizer dan BioNTech siapkan vaksin untuk anak menyusul izin FDA
Indonesia
•
30 Oct 2021
Berita Terbaru

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

Aktivis AS berencana gelar aksi protes kedua, tuntut agen federal hengkang dari Minnesota
Indonesia
•
29 Jan 2026

Badan Pangan PBB akan hentikan operasi di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, akhiri kontrak 360 pegawai
Indonesia
•
29 Jan 2026

Swedia luncurkan program baru untuk tekan kekerasan laki-laki terhadap perempuan
Indonesia
•
29 Jan 2026
