Peneliti ciptakan konsep baterai kuantum dengan pengisian daya jarak jauh yang efisien

Sebuah kendaraan pengangkut memindahkan suku cadang sistem baterai listrik terpasang di pabrik SAIC-CATL Motor Power Battery System Co., Ltd. di Changzhou, Provinsi Jiangsu, China timur, pada 16 Februari 2023. (Xinhua/Li Bo)
Baterai kuantum memanfaatkan efek kuantum untuk menyimpan dan memasok energi, yang dapat mengungguli baterai klasik.
Lanzhou, China (Xinhua) – Tim peneliti China mengusulkan konsep baterai kuantum (quantum battery/QB) untuk merealisasikan pengisian daya jarak jauh, yang secara efektif memecahkan masalah disipasi energi, serta mencapai performa yang tahan lama dan efisien pada baterai kuantum.Baterai kuantum memanfaatkan efek kuantum untuk menyimpan dan memasok energi, yang dapat mengungguli baterai klasik. Namun demikian, masih ada tantangan dalam bidang ini. Salah satunya adalah dekoherensi yang disebabkan oleh lingkungan menyebabkan hilangnya energi dan penuaan pada QB. Tantangan lainnya berupa inefisiensi pengisian daya karena menurunnya kekuatan sambungan antara pengisi daya dan QB seiring bertambahnya jarak.Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan energi yang terus meningkat telah mendorong minat akademis pada penelitian perangkat penyimpanan dan suplai energi transformatif.Konsep QB diprakarsai oleh fisikawan di sejumlah negara, seperti Polandia dan Belgia, kemudian diikuti oleh fisikawan-fisikawan lain di seluruh dunia. Mereka berharap dapat mengembangkan QB yang lebih kecil, dengan kemampuan pengisian daya yang lebih kuat dan kapasitas pengisian daya yang lebih tinggi menggunakan efek kuantum dan proses manufaktur atom bawah-ke-atas (bottom-up).Baterai kuantum, yang menyimpan energi dari cahaya dalam keadaan kuantum atom dan molekul, secara teoretis dapat mengisi daya lebih cepat dibandingkan perangkat konvensional. Namun, interaksi antara QB dan lingkungannya cenderung menyebabkan efek kuantum yang peka pada perangkat menjadi rusak, sehingga mengurangi kemampuannya dalam menyimpan energi."Setiap sistem kuantum tidak dapat sepenuhnya terisolasi dari lingkungan luarnya, yang pasti menimbulkan dekoherensi yang tidak diinginkan pada sistem," ungkap An Junhong, seorang profesor dari Universitas Lanzhou.Menggunakan peran konstruktif dekoherensi, para peneliti dari Universitas Hubei, Akademi Inovasi untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pengukuran Presisi (Innovation Academy for Precision Measurement Science and Technology/APM) yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), serta Universitas Lanzhou merancang cara untuk memanfaatkan interaksi tersebut guna mengisi daya baterai, bukan mengurasnya.Mereka mengusulkan untuk menempatkan pengisi daya dan baterai, yang dapat berbentuk bermacam format, termasuk atom dalam keadaan berenergi tinggi, ke dalam sebuah tabung logam berbentuk persegi panjang.Dengan menerapkan konsep medan elektromagnetik di seluruh tabung itu, para peneliti menempatkan baterai, pengisi daya, dan lingkungan tabung ke dalam satu keadaan kuantum. Hal ini membuat pengisi daya dapat bertukar energi dengan baterai tanpa membuat sistem terpapar gangguan.Skema tersebut, yang masih belum diuji coba, dapat berfungsi dengan baterai dan pengisi daya yang diposisikan berjarak hingga 10 sentimeter. Ini akan membuat baterai tidak kehilangan efisiensinya dari waktu ke waktu, ungkap para peneliti.Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Physical Review Letters.An Junhong menyoroti bahwa perangkat mereka benar-benar aman dan tidak berbahaya karena medan elektromagnetik selalu terkurung di dalam bumbung gelombang (waveguide) dan penyimpan energi QB, bebas dari reaksi elektrokimia, sehingga dapat digunakan kembali secara terus-menerus tanpa mencemari lingkungan.Langkah selanjutnya bagi para peneliti adalah meningkatkan skema QB mereka. "Lebih khususnya, kami berencana untuk mengembangkan model QB multibodi yang beroperasi dengan cara pengisian daya nirkabel jarak jauh. Hal ini memungkinkan kami untuk dapat secara efisien menggabungkan keunggulan keterikatan kuantum dalam meningkatkan kemampuan pengisian daya, kapasitas pengisian daya, dan pekerjaan yang dapat diekstraksi dari pengisian daya jarak jauh dan antipenuaan QB," ujar An.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China kembangkan nanobodi berspektrum luas untuk pengobatan demam kutu
Indonesia
•
22 Nov 2025

COVID-19 – Ahli: Mayoritas pasien pulih karena kekebalan alami
Indonesia
•
30 Oct 2020

Studi ungkap berjalan 5.000 langkah sehari dapat perlambat perkembangan Alzheimer
Indonesia
•
05 Nov 2025

China akan manfaatkan lebih dari 18 miliar meter kubik air nonkonvensional pada 2024
Indonesia
•
19 Feb 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
