
Bayi makin langka di Jepang, angkanya kini lebih buruk dari prediksi para ahli

Orang-orang berjalan di sebuah ruas jalan di Tokyo, Jepang, pada 18 Mei 2026. (Xinhua/Jia Haocheng)
Angka kelahiran di Jepang turun tajam menjadi sekitar 686.000 pada 2024, turun di bawah ambang batas 700.000 untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1899.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Jumlah bayi yang lahir di Jepang dari warga negara Jepang turun ke rekor terendah, yakni 671.236 pada 2025. Sementara itu, tingkat kesuburan total di negara tersebut juga merosot ke level terendah baru, demikian menurut data pemerintah yang dirilis pada Rabu (3/6).
Jumlah bayi yang lahir turun 2,2 persen, atau sebanyak 14.937 bayi, dari tahun sebelumnya, mencapai rekor terendah sejak pencatatan statistik dimulai pada 1899. Sementara itu, tingkat kesuburan, yakni rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang wanita selama masa hidupnya, turun tipis 0,01 poin persentase menjadi 1,14. Kedua indikator ini mengalami penurunan selama 10 tahun berturut-turut, papar data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.
Penurunan angka kelahiran ini terjadi sekitar 15 tahun lebih cepat dari perkiraan. Pada 2023, Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial (National Institute of Population and Social Security Research) Jepang memperkirakan bahwa angka kelahiran di Jepang akan turun ke kisaran 670.000 pada 2040-an.
Sementara itu, angka kematian menurun untuk pertama kalinya dalam lima tahun, turun sebanyak 15.889 menjadi 1.589.489, ungkap data tersebut, kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor seperti penurunan angka kematian akibat COVID-19.
Meski demikian, angka kematian masih melampaui angka kelahiran sebanyak 918.253 jiwa, menandai 19 tahun berturut-turut terjadinya penurunan alamiah populasi.
Angka kelahiran di Jepang turun tajam menjadi sekitar 686.000 pada 2024, turun di bawah ambang batas 700.000 untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1899.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Menyusuri jejak masa lalu di Pecinan Glodok, dari klenteng, gereja, hingga tradisi teh China
Indonesia
•
02 Feb 2026

Polusi udara meningkat, sejumlah pembatasan diterapkan di Delhi, India
Indonesia
•
25 Dec 2023

PBB: Kerusakan infrastruktur hambat upaya bantuan gempa bumi di Turkiye
Indonesia
•
08 Feb 2023

Lebih dari 32.700 migran tewas di Mediterania sejak 2014
Indonesia
•
04 Oct 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
