
Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan

Foto yang diabadikan pada 21 September 2026 ini menunjukkan seseorang menonton video di akun Instagram seorang 'catsitter'. (Xinhua/Yohanna Yuni)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah video yang diunggah Fitra Rufaida di akun Instagram-nya pada 28 Juli lalu dibuka dengan menunjukkan tangannya sedang memutar pegangan pintu.
Dia memasuki ruangan sambil menyapa ramah. Sapaan itu tidak ditujukan kepada seseorang, melainkan kepada seekor kucing yang langsung menyambut dengan eongan manja sembari menghampiri dan mengendus-endus tangannya.
Seekor kucing lain yang semula berdiri di tangga ikut turun menghampirinya. Mereka kembali mencium-cium tangan Fitra, yang dibalas wanita itu dengan usapan gemas sembari mengajak mereka berbicara.
Interaksi sederhana tetapi manis tersebut memperlihatkan satu bagian kecil dari keseharian Fitra sebagai catsitter. Setiap kunjungan berarti memasuki ruang yang sudah akrab bagi seekor kucing, sekaligus menerima kepercayaan dari pemiliknya.
Saat dihubungi Xinhua lewat WhatsApp beberapa waktu lalu, Fitra sempat membagikan foto whiteboard berisi jadwal kunjungannya. Dalam sehari, tercatat ada lima hingga enam rumah yang harus didatanginya. Lokasinya berpindah-pindah, mulai dari Tanah Abang, Palmerah, Kalibata, hingga Kebon Jeruk dan bahkan Cipayung.
"Sehari-hari pekerjaan saya cukup dinamis karena saya berpindah dari satu rumah klien ke rumah klien lainnya," kata Fitra, yang tinggal di Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Hari-harinya sebagai catsitter juga kerap dia bagikan melalui media sosial. Kepada ribuan pengikutnya di Instagram, Fitra memperlihatkan kesibukannya saat melakukan visit, menunjukkan tingkah polah anabul (anak bulu) yang ditemuinya, pekerjaan yang dilakukannya, hingga cerita-cerita kecil dari setiap kunjungan.
Kucing-kucing yang diurusnya pun beragam. Ada yang masih kecil, lincah, dan penuh rasa ingin tahu terhadap orang yang datang. Ada pula yang sudah berusia lanjut dan membutuhkan perhatian lebih. Masing-masing memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda, sehingga Fitra perlu menyesuaikan cara berinteraksi dalam setiap kunjungan.
Saat berkunjung, tugasnya bukan hanya memberikan makanan dan minuman. Dia juga membersihkan bak pasir, memeriksa kondisi kucing, mengajaknya bermain, serta mengamati perubahan perilaku. Foto dan video kemudian dikirimkan kepada pemilik sebagai laporan.
"Catsitting bukan sekadar datang, kasih makan, lalu pulang. Saya harus benar-benar memperhatikan perilaku kucing. Misalnya, apakah dia makan seperti biasa, menggunakan litter box, terlihat aktif, atau justru ada perubahan yang perlu diperhatikan," terang wanita berusia 27 tahun itu kepada Xinhua.
Fitra mulai menawarkan jasa catsitting karena sejak awal memang menyukai kucing dan terbiasa merawat kucing peliharaannya sendiri.
Dia kemudian melihat bahwa banyak pemilik membutuhkan bantuan ketika harus bekerja, bepergian, atau memiliki kesibukan lain sehingga tidak dapat mengurus sendiri kebutuhan sehari-hari anabul kesayangan mereka.
Lambat laun, Fitra semakin serius menekuni profesi tersebut dan menjadikannya pekerjaan utama, dengan akun Instagram @catsitterjakarta_ sebagai salah satu sarana untuk menjangkau klien.
Kliennya pun beragam, mulai dari pekerja dengan jadwal padat, keluarga, pasangan muda, hingga mahasiswa. Sebagian menggunakan jasa catsitter ketika harus bepergian beberapa hari dan tidak dapat membawa kucing mereka, tetapi juga tidak ingin meninggalkannya tanpa pengawasan.
Kebutuhan terhadap jasa perawatan hewan juga muncul di tengah tingginya minat masyarakat Indonesia untuk memelihara hewan.
Survei Jakpat terhadap 1.254 responden pada 9-10 Maret 2026 menunjukkan 52 persen responden sudah memiliki hewan peliharaan, sedangkan 26 persen lainnya tertarik untuk memeliharanya.
Kucing menjadi hewan yang paling banyak dipelihara. Dari responden yang memiliki hewan peliharaan, 75 persen memelihara kucing, disusul ikan 30 persen dan burung 21 persen.
Survei yang sama menunjukkan 63 persen responden mengatakan hewan peliharaan membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati, sementara 62 persen memeliharanya sebagai teman di rumah.
Di sisi lain, bagi Wienda Parwitasari (48), seorang wiraswasta, kebutuhan akan catsitter muncul ketika jumlah kucing yang dipeliharanya semakin banyak dan durasi kepergiannya hingga berhari-hari.
Wienda sendiri pertama kali menggunakan jasa catsitter pada 2017, saat harus pergi ke luar kota selama lebih dari sepekan. Saat itu kucingnya masih berjumlah dua ekor. Sebelumnya, dia juga pernah menitipkan mereka kepada dokter hewan langganannya, tetapi menurutnya, kucingnya justru merasa stres di tempat asing.
Pengalaman tersebut membuatnya kemudian memilih catsitter yang datang langsung ke rumah. Dengan begitu, kucing-kucingnya tetap berada di lingkungan yang sudah mereka kenal, tanpa harus melalui perjalanan dan proses adaptasi di tempat penitipan yang dipenuhi hewan lain. Pilihan ini menjadi semakin penting seiring jumlah kucing yang dipeliharanya bertambah. Kini ada sembilan ekor kucing di rumahnya, salah satunya bahkan pernah menderita ATE (Tromboembolisme Aorta) sehingga membutuhkan perhatian khusus.
"Lebih tenang karena kucing tidak stres, tidak bercampur dengan kucing lain atau kucing asing yang kita tidak tahu apakah dalam keadaan sehat dan tidak membawa virus. Jadi lebih mudah dikontrol," tutur Wienda kepada Xinhua pada Selasa (15/9).
Menurutnya, perawatan di rumah juga lebih terjangkau secara finansial dan tidak membuatnya harus meminta bantuan keluarga atau teman ketika perlu bepergian.
Pilihan untuk merawat kucing di rumah juga sejalan dengan bagaimana Fitra menjalankan pekerjaannya. Kucing tetap berada di lingkungan yang sudah dikenalnya, dengan tempat makan, tempat tidur, dan bak pasir yang biasa digunakan. Pemilik pun tetap dapat mengetahui kondisi kucing melalui foto dan video yang dikirimkan saat kunjungan.
Menurut Fitra, cara orang memperlakukan kucing juga berubah. Kucing semakin sering dipandang sebagai bagian dari keluarga. Pemilik tidak hanya memperhatikan makanan dan kebersihan, tetapi juga kesehatan, vaksinasi, sterilisasi, pemeriksaan ke dokter hewan, hingga kebutuhan bermain dan stimulasi.
Perubahan itu ikut terlihat dari jenis permintaan yang diterimanya. Ada klien yang hanya membutuhkan perawatan dasar, tetapi ada pula yang meminta perhatian lebih karena kucingnya sedang dalam masa pemulihan atau harus mendapatkan obat sesuai petunjuk pemilik.
Bagi Fitra, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan catsitter membutuhkan lebih dari sekadar kecintaan terhadap kucing. Ketepatan waktu, komunikasi dengan pemilik, kemampuan mengamati kondisi hewan, serta tanggung jawab selama berada di rumah klien menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Dia melihat jasa catsitting juga masih dapat berkembang sebagai pekerjaan yang ditekuni secara serius. Layanan dapat dikembangkan dengan standar perawatan, sistem pemesanan, dan bentuk layanan yang lebih terstruktur, ujarnya. Peluangnya juga tidak hanya ada di kota-kota besar.
Seiring berkembangnya edukasi mengenai kesejahteraan hewan dan cara merawat hewan peliharaan, jasa seperti pet sitter, grooming, pet taxi, dan layanan perawatan hewan lainnya menurutnya akan semakin dibutuhkan.
Terlepas dari semua itu, ada hal-hal kecil yang membuatnya menikmati pekerjaan tersebut dan meninggalkan kesan mendalam baginya. Salah satunya ketika kucing yang semula takut dan tidak mau didekati perlahan-lahan mulai percaya dan membuka diri, menghampirinya sendiri dan meminta dielus.
Bagi Fitra, itu bukan sekadar tanda bahwa kunjungannya berjalan baik. Itu adalah bentuk kepercayaan yang diberikan seekor kucing kepadanya.
Selesai
Penulis: Yohanna Yuni
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kisah – Kehidupan pembuat teh melati yang harum di Fuzhou, China
Indonesia
•
12 Dec 2022

Lima suaka baru burung migran di China ditambahkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO
Indonesia
•
27 Jul 2024

Fokus Berita – Kerusakan total infrastruktur telekomunikasi di Gaza lumpuhkan operasi bantuan
Indonesia
•
16 Jun 2025

Feature – Populasi China yang menua dorong munculnya profesi perawat baru
Indonesia
•
15 Aug 2024


Berita Terbaru

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Wawancara – Di tengah kesibukan, orang tua tetap harus hadir untuk anak
Indonesia
•
20 Sep 2026
