
Daur ulang ‘tailwater’ di Kota Tangshan China tingkatkan produksi akuakultur

Foto dari udara ini menunjukkan sebuah budi daya marikultur di Kota Tangshan, Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Yang Shiyao)
Budi daya marikultur di wilayah Laoting, Tangshan, memanfaatkan daur ulang tailwater, yang menghilangkan nitrogen dan disinfeksi ultraviolet.
Shijiazhuang, China (Xinhua) – Air pada hilir rangkaian budi daya (tailwater) bukanlah air limbah, sebagaimana ditemukan oleh sebuah kota akuakultur utama di Provinsi Hebei, China utara."Sejak pertengahan Januari, kami memanen hingga 2.500 kilogram udang setiap hari. Air yang didaur ulang memainkan peran penting," ujar Yin Xiangguang, kepala sebuah budi daya marikultur di wilayah Laoting, Tangshan. Tangshan telah cukup lama mendorong kegiatan marikultur ramah lingkungan.Di pintu masuk lahan budi daya akuakulturnya, sebuah alat rol seperti kincir air berputar tanpa henti. Tailwater mengalir ke rol tersebut dan mikrofilter. Partikel-partikel besar berupa sisa umpan, kotoran udang dan ikan pun tersaring.Pada langkah selanjutnya, budi daya marikultur itu melakukan proses penghilangan nitrogen dan disinfeksi ultraviolet. Air yang sudah diolah tersebut kemudian dipanaskan dan dikembalikan ke tambak udang untuk digunakan kembali, sedangkan sejumlah kecil tailwater dibuang setelah dilakukan pengolahan khusus.Lahan marikultur milik Yin membudidayakan lebih dari 10 jenis produk akuatik, termasuk udang dan ikan sebelah (flounder).Pada 2020, marikultur tersebut membangun sebuah pabrik daur ulang air, yang meningkatkan tingkat pendaurulangan air akuakultur hingga lebih dari 80 persen.Budi daya marikultur tersebut meraup keuntungan besar dari investasi fasilitas pendaurulangan air. "Dulu, kami memompa air dari laut," tutur Yin. "Ini mengakibatkan reaksi stres pada udang dan sejumlah kerugian."Dengan penggunaan air daur ulang, suhu dan kualitas air tetap konstan, sehingga memastikan lingkungan hidup yang stabil bagi ikan dan udang. Saat ini, budi daya marikultur tersebut hanya perlu disuplai air laut dalam jumlah sedikit.Kota Tangshan memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 250 km, dan area seluas lebih dari 930.000 mu (sekitar 62.000 hektare) digunakan untuk akuakultur air laut. Output akuakultur setempat mencapai 247.000 ton.Kota itu bertekad mempercepat transformasi hijau dan rendah karbon pada industri akuakultur.Tangshan Caofeidian Huitong Aquatic Science and Technology menyiapkan puluhan tangki sedimentasi di luar lahan budi daya akuakulturnya untuk mengolah tailwater.Tangki sedimentasi dengan lima tahapan itu memurnikan tailwater agar bisa digunakan lebih lanjut, kata Tian Zhongxi, direktur kantor perusahaan tersebut.Banyak petani akuakultur sudah merasakan manfaat budi daya ramah lingkungan (eco-farming), ujar Su Wenqing, seorang pejabat yang bertanggung jawab atas peningkatan teknologi akuatik di Kota Tangshan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan sebut teknologi AI berdayakan pengembangan media
Indonesia
•
15 Oct 2024

Pameran mahadata internasional China akan digelar akhir Mei
Indonesia
•
14 Feb 2023

China luncurkan ekspedisi ilmiah lumba-lumba tanpa sirip Yangtze
Indonesia
•
20 Sep 2022

Pesawat amfibi AG600 China diperkirakan masuki pasar pada 2025
Indonesia
•
18 Feb 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
