
Buku yang bahas kekerasan dan trauma alami lonjakan permintaan di AS

Bendera Amerika Serikat (AS) berkibar setengah tiang di Sekolah Dasar William Northrup di Los Angeles County, California, Amerika Serikat, pada 25 Mei 2022, untuk menghormati para korban penembakan massal di sekolah dasar Texas itu. (Xinhua)
Penjualan buku untuk para pembaca muda tentang kekerasan, kesedihan, dan emosi mengalami peningkatan selama sembilan tahun berturut-turut, dengan hampir enam juta eksemplar terjual pada 2021, lebih dari dua kali lipat jumlah pada 2012.
New York City, AS (Xinhua) – Saat tahun ajaran baru mulai berjalan, beberapa siswa memiliki kecemasan yang lebih berat dibandingkan mengerjakan pekerjaan rumah, alhasil permintaan akan buku anak-anak yang membahas peristiwa traumatis seperti penembakan di sekolah-sekolah terus meningkat, menurut laporan The Associated Press (AP) pada Selasa (11/10).Penjualan buku untuk para pembaca muda tentang kekerasan, kesedihan, dan emosi mengalami peningkatan selama sembilan tahun berturut-turut, dengan hampir enam juta eksemplar terjual pada 2021, lebih dari dua kali lipat jumlah pada 2012, menurut NPD BookScan, yang melacak penjualan ritel buku cetak Amerika Serikat (AS)."Ketika tingkat kecemasan dan depresi melonjak di kalangan anak muda Amerika, para pendidik dan pegiat mengatakan buku anak-anak dapat berperan dalam membantu mereka mengatasinya," sebut laporan itu.Toko-toko buku di seantero negara itu melihat minat pada judul dari genre tersebut naik dan turun tergantung pada berita utama lokal dan nasional, menurut penjual buku Barnes & Noble."Meskipun mungkin sudah menjadi kebiasaan untuk mencoba melindungi anak-anak dari kenyataan hidup yang lebih keras dan berbagai berita menakutkan, ternyata sulit untuk menghindari isu masyarakat yang besar," kata Kristine Enderle, direktur editorial di Magination Press, cabang penerbitan buku anak-anak dari American Psychological Association. "Anak-anak menghadapi masalah dan tantangan ini dalam kehidupan mereka sehari-hari."Kekerasan senjata api
Hasil survei ‘Wawasan Senjata dan Budaya pada Generasi Z’ (Gen Z Gun and Culture Insights) yang dirilis pada 28 September lalu menunjukkan, sebanyak 30 persen kalangan remaja dan dewasa muda di Amerika Serikat pernah mengalami sendiri kekerasan bersenjata dan seperempat lainnya (24 persen) memiliki teman atau anggota keluarga yang pernah mengalami hal tersebut.Lebih dari seperempat (28 persen) mengatakan bahwa mereka sendiri atau teman atau anggota keluarga pernah ditembak, dan di kalangan anak muda kulit hitam dan Latin, lebih dari 60 persen memiliki pengalaman pribadi dengan kekerasan bersenjata atau mengetahui seseorang yang memiliki pengalaman serupa, kata survei itu."Generasi Z menempatkan kekerasan bersenjata sebagai masalah yang lebih besar dibandingkan perubahan iklim atau akses aborsi," urai survei yang dilakukan Global Strategy Group dan menyurvei 1.000 warga AS berusia 13 hingga 25 tahun.
Para pelajar yang mengenakan rompi antipeluru menggelar aksi unjuk rasa di dekat Capitol Reflecting Pool di Washington DC, Amerika Serikat, pada 6 Juni 2022. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia raih medali “World Culture Award” di Seoul
Indonesia
•
15 Oct 2019

Akademisi UC Irvine AS bergabung dalam aksi mogok untuk protes penanganan demonstrasi pro-Palestina
Indonesia
•
09 Jun 2024

Laporan AP sebut narapidana hasilkan lebih dari 250 juta dolar AS untuk Alabama sejak tahun 2000
Indonesia
•
26 Dec 2024

PBB: 22,6 juta warga Ethiopia alami kerawanan pangan akibat kekeringan, konflik
Indonesia
•
05 Feb 2023


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
