
COVID-19 – Subvarian baru Omicron sumbang hampir 70 persen kasus baru di AS

Seorang anak menerima suntikan vaksin COVID-19 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), pada 17 Desember 2022. Angka kematian dan pasien rawat inap akibat COVID-19 terus bertambah di Los Angeles County, Negara Bagian California, AS barat, melampaui angka yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. County tersebut menghadapi ancaman 'tridemik' yang meliputi lonjakan COVID, musim flu yang parah, dan meningkatnya jumlah kasus RSV, membuat rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan. (Xinhua)
Subvarian baru Omicron hampir tidak rentan terhadap netralisasi oleh vaksin, termasuk vaksin penguat (booster) baru Omicron, sehingga dapat mengakibatkan lonjakan infeksi breakthrough (infeksi yang dialami seseorang meski telah divaksin) dan infeksi ulang, meski vaksin terbukti menekan tingkat keparahan penyakit.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Subvarian baru Omicron, yakni BQ.1 dan BQ.1.1, menyumbang sekitar 70 persen kasus infeksi baru COVID-19 di Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu, demikian menurut perkiraan terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS.BQ.1.1 diperkirakan mencakup sekitar 38,4 persen dari seluruh varian yang menyebar dalam pekan yang berakhir pada 17 Desember, sementara BQ.1 diperkirakan akan mencakup 30,7 persen, ungkap data CDC AS.Kedua varian tersebut merupakan turunan dari subvarian Omicron BA.5. Keduanya berkembang dengan sangat cepat sejak Oktober.Pada awal Oktober, masing-masing dari dua varian baru itu menyumbang sekitar 1 persen infeksi baru di AS. Keduanya menggantikan BA.5 sebagai galur (strain) yang dominan di AS pada pertengahan November.BA.5 hanya menyumbang 10 persen dari infeksi baru dalam sepekan terakhir.Subvarian Omicron lainnya, XBB, juga mencatatkan peningkatan, menyumbang 7,2 persen dari infeksi baru.Para peneliti menemukan bahwa subvarian BQ dan XBB "hampir tidak rentan terhadap netralisasi" oleh vaksin, termasuk vaksin penguat (booster) baru Omicron, papar sebuah penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Cell.Hal ini dapat mengakibatkan lonjakan infeksi breakthrough (infeksi yang dialami seseorang meski telah divaksin) dan infeksi ulang, meski vaksin terbukti menekan tingkat keparahan penyakit, imbuh penelitian tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Trump teken perintah eksekutif untuk mulai bubarkan Departemen Pendidikan AS
Indonesia
•
21 Mar 2025

Sekjen PBB: FAO laporkan kegagalan akhiri kelaparan dunia
Indonesia
•
04 May 2023

COVID-19 - Lebih 25 bayi lahir dari pasien COVID-19 di Madinah
Indonesia
•
03 Jul 2020

Studi Finlandia sebut kawasan Arktik memanas lebih cepat dari perkiraan
Indonesia
•
13 Aug 2022


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
