
Dunia menanti hubungan China-AS Stabil, ini yang dipertaruhkan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar upacara penyambutan bagi Presiden China Xi Jinping, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke AS, di Gedung Putih, Washington DC, AS, pada 24 September 2026. (Xinhua/Yin Bogu)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para pengamat di seluruh dunia mengatakan bahwa hubungan China-Amerika Serikat (AS) yang stabil tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan kedua negara, tetapi juga kepentingan dunia, dengan memberikan kepastian yang lebih besar bagi perdagangan global.
Kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke AS yang baru saja berakhir telah menghasilkan kemajuan baru dalam upaya membangun hubungan China-AS dengan stabilitas strategis yang konstruktif, yang didasarkan pada rasa hormat, keadilan, dan timbal balik.
Dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Kamis (24/9), Xi juga menyerukan agar visi baru untuk membangun hubungan China-AS dengan stabilitas strategis yang konstruktif diwujudkan dalam tindakan nyata, serta agar kedua negara besar tersebut menemukan cara yang tepat untuk hidup berdampingan secara harmonis.
"Hal ini sejalan dengan aspirasi bersama komunitas internasional yang mendambakan stabilitas, karena hubungan China-AS yang stabil akan membantu menopang perdamaian dan stabilitas global. Hal ini juga akan membantah anggapan bahwa 'Perangkap Thucydides' merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam pengelolaan hubungan China-AS," kata Ong Tee Keat, Presiden Kaukus Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra untuk Asia-Pasifik.
Seiring dengan semakin disadarinya oleh kedua negara besar dunia tersebut, dari waktu ke waktu, bahwa mereka harus saling mengakomodasi dalam dinamika saat ini, koeksistensi damai menjadi titik temu bersama yang perlu mereka junjung tinggi, ujar akademisi Malaysia tersebut.
Azmi Hassan, peneliti senior di wadah pemikir (think tank) Malaysia, Nusantara Academy for Strategic Research, sependapat dengan hal tersebut.
Dia mengatakan bahwa hubungan yang baik antara China dan AS tidak hanya akan menguntungkan kedua negara besar tersebut, tetapi juga dunia.
"Hal ini tidak hanya berlaku dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam konteks geopolitik, yang memungkinkan kedua belah pihak dan seluruh dunia memperoleh manfaat," imbuhnya.
"Saya yakin sangat penting bagi AS dan China untuk bergerak ke arah yang positif sebagai mitra, bukan bergerak ke arah yang menjadikan mereka sebagai pihak yang saling bermusuhan," ujar Kenneth Quinn, presiden emeritus World Food Prize Foundation sekaligus mantan duta besar AS untuk Kamboja.
Quinn (84), yang telah memimpin pertukaran antara Negara Bagian Iowa di AS dan China selama beberapa dekade, mengatakan bahwa "tujuan nomor satu" adalah agar hubungan China-AS terus mempertahankan "stabilitas strategis yang konstruktif" dan "tidak mengalami volatilitas, naik turun, serta lonjakan besar dalam tarif dan rencana pengenaan tarif."
"Presiden Xi benar sekali bahwa menstabilkan hubungan China-AS sangatlah penting. Membangun hubungan yang konstruktif akan lebih baik lagi," tutur Bruce McLaughlin, CEO Sinogie Consulting Group di Australia.
"Kedua belah pihak memperoleh manfaat dari hubungan yang konstruktif, stabil, dan dikelola dengan baik, yang mendorong peningkatan perdagangan dan investasi," kata McLaughlin.
"Hal yang sangat penting di sini adalah pemerintah AS berhenti memandang perdagangan sebagai persaingan yang bermentalitas menang-kalah (zero-sum), serta mulai menyadari bahwa upaya untuk mencapai manfaat bersama itu mungkin dilakukan," imbuhnya.
Pertemuan dan pembicaraan langsung antara para pemimpin dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia merupakan kabar baik bagi dunia usaha di mana pun, kata Rhys Roberts, presiden nasional Dewan Bisnis Australia-China (Australia China Business Council). "Hal yang paling dihargai oleh dunia usaha adalah prediktabilitas."
"Komitmen yang dibuat di tingkat pemimpin menjadi sangat berarti ketika diwujudkan dengan pengaturan yang konsisten dan praktis, yang dapat menjadi dasar perencanaan perusahaan. Hal itulah yang akan menjadi perhatian dunia usaha," tambahnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

AS janjikan senjata baru senilai 400 juta dolar AS untuk Ukraina
Indonesia
•
09 Jul 2022

Inggris, Prancis, Kanada dan sekutu jatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel
Indonesia
•
10 Jun 2026

Pejabat China: Kebohongan AS soal Xinjiang rusak kredibilitasnya dengan cepat
Indonesia
•
31 Aug 2022

Agen AI makin canggih dan sulit dikendalikan manusia, PBB peringatkan sistem perlindungan tak lagi memadai
Indonesia
•
22 Sep 2026


Berita Terbaru

Menlu Saudi desak Selat Hormuz kembali normal tanpa biaya dan pembatasan
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran sebut 5.000 orang tewas dalam serangan AS-Israel, ratusan perempuan dan anak jadi korban
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran ungkap senjata strategis disimpan di bawah tanah, apa yang disembunyikan Teheran?
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran belum menutup babak konflik, Selat Hormuz jadi kartu strategis Teheran
Indonesia
•
28 Sep 2026
