
El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 11 September 2025 ini menunjukkan area persawahan di Desa Wanajaya di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Veri Sanovri)
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – El Nino kemungkinan akan menimbulkan risiko inflasi yang lebih besar daripada guncangan pertumbuhan bagi perekonomian-perekonomian ASEAN, dengan kenaikan harga beras, gandum, jagung, dan minyak nabati yang diperkirakan menjadi faktor utama dampaknya, demikian disampaikan OCBC Group Research pada Rabu (9/9).
Lavanya Venkateswaran, ekonom senior ASEAN dan India, mengatakan dalam sebuah catatan bahwa menurutnya Filipina, Indonesia, dan Thailand termasuk di antara negara-negara ASEAN yang lebih rentan terhadap El Nino, sementara Malaysia dan Vietnam menghadapi risiko yang signifikan namun lebih terkonsentrasi.
Kenaikan harga pangan "dapat menambah tekanan inflasi regional, dengan risiko inflasi impor yang juga meningkat mengingat mayoritas negara di kawasan ini merupakan pengimpor bersih pangan," ujarnya.
Dia menyebutkan bahwa selain Thailand dan Vietnam, negara-negara dengan perekonomian besar di kawasan ini pada umumnya merupakan importir bersih beras, sehingga Filipina, Malaysia, dan Indonesia rentan terhadap potensi guncangan nilai tukar perdagangan (terms-of-trade) akibat kenaikan harga beras.
Dia menambahkan bahwa mayoritas perekonomian di kawasan ini merupakan importir bersih biji-bijian dalam skala besar, termasuk ASEAN-6, dan sangat rentan terhadap tekanan inflasi yang berasal dari luar negeri ketika harga gandum dan jagung global meningkat.
Selain itu, dia menuturkan bahwa transmisi inflasi pangan akan bervariasi, bergantung pada bobot pangan dalam keranjang harga konsumen, tingkat ketergantungan impor, serta intervensi pemerintah melalui langkah-langkah seperti subsidi dan pengendalian harga.
Dampak terhadap pertumbuhan diperkirakan akan lebih tidak merata dan sebagian besar terkonsentrasi di sektor pertanian.
Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang memiliki sektor pertanian relatif besar, menjadi lebih rentan terhadap penurunan produksi dan melemahnya pendapatan di pedesaan.
Kendati demikian, dia berpendapat bahwa negara-negara pengekspor hasil pertanian seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam dapat mengimbangi sebagian dampak melalui peningkatan pendapatan ekspor komoditas.
"Dampak makroekonomi akhirnya tidak hanya akan bergantung pada kondisi cuaca, tetapi juga pada langkah-langkah kebijakan, termasuk pembatasan perdagangan pangan, pelepasan stok, dan langkah-langkah subsidi," imbuhnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Titik pengisian daya kendaraan listrik di China catat pertumbuhan pesat
Indonesia
•
12 Dec 2022

China luncurkan katalog industri baru, buka investasi asing lebih banyak
Indonesia
•
29 Oct 2022

Indeks harga konsumen China tetap stabil pada paruh pertama 2023
Indonesia
•
11 Jul 2023

Menkeu AS: Perekonomian APEC jadi pusat dan masa depan ekonomi dunia
Indonesia
•
15 Nov 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
