
El Nino kuat diprediksi melanda hingga 2027, Selandia Baru waspadai kekeringan dan kebakaran hutan

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan kebakaran hutan di Taman Nasional Tongariro di Selandia Baru pada 9 November 2025. (Xinhua/Departemen Pemadam Kebakaran dan Kedaruratan Selandia Baru)
Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Fenomena El Nino kuat yang berkembang di Samudra Pasifik tropis diperkirakan akan membawa kondisi kering serta meningkatkan risiko kebakaran hutan di sejumlah wilayah Selandia Baru dalam beberapa bulan mendatang, menurut Earth Sciences New Zealand.
Lembaga tersebut mengatakan dalam pernyataannya pada Kamis (2/7) bahwa kondisi El Nino telah terbentuk dan dapat meningkat intensitasnya menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah, berpotensi membentuk pola cuaca hingga 2027.
"Seperti yang kita lihat pada peristiwa El Nino sebelumnya, sebagian besar model jangka panjang menunjukkan kondisi yang lebih kering dari biasanya untuk wilayah utara dan timur Selandia Baru, sementara wilayah barat, terutama Pulau Selatan, kemungkinan akan mengalami peningkatan curah hujan," tutur Jon Tunster, pakar meteorologi di Earth Sciences New Zealand dan MetService.
Tunster memperingatkan bahwa faktor-faktor iklim lainnya, termasuk perubahan suhu di Samudra Hindia, pengaruh yang terkadang datang dari Antarktika, serta perubahan iklim, juga dapat memengaruhi kondisi cuaca di Selandia Baru.
"Ini bukan hanya El Nino, atau bahkan Super El Nino, tetapi fenomena El Nino kali ini diperkirakan akan memiliki pengaruh besar, kemungkinan mulai September," kata Tunster.
Tunster menambahkan bahwa angin yang disertai curah hujan yang lebih rendah akan membuat tanah menjadi kering dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama dalam kondisi cuaca panas dengan kelembapan rendah yang diperkirakan terjadi terutama di wilayah timur dan kemungkinan juga wilayah utara Selandia Baru.
Sementara itu, penurunan curah hujan dapat mengurangi pengisian kembali air tanah, "menimbulkan tantangan bagi sektor-sektor yang bergantung pada ketersediaan air," papar Tunster lebih lanjut.
Profesor Anita Wreford, seorang ahli ekonomi terapan dari Universitas Lincoln di Selandia Baru, mengatakan bahwa meskipun dampaknya masih belum pasti, sektor-sektor yang berisiko dapat mengurangi dampak tersebut dengan menerapkan "rencana yang kuat dan fleksibel untuk menyesuaikan praktik mereka seiring dampaknya mulai terlihat."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian Australia tidak temukan kaitan antara ponsel dengan berbagai jenis kanker
Indonesia
•
06 Feb 2025

Model AI canggih temukan mutasi gen penyebab penyakit
Indonesia
•
28 Oct 2025

Penelitian di Australia ungkap gejala penuaan dini di usia 40 tahun
Indonesia
•
19 May 2025

Pesawat kargo nirawak Tianma-1000 buatan China rampungkan penerbangan perdana
Indonesia
•
14 Jan 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
