
Feature – 100 hari setelah perang, Teheran bangkit dari puing-puing tetapi luka masih tersisa

Warga berkumpul untuk sebuah upacara pemakaman massal bagi para murid dan staf yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada 3 Maret 2026. (Xinhua/Kantor Berita Mehr)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 100 hari setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, kehidupan di sekitar Alun-Alun Enqelab di Teheran tampak telah kembali ke ritme yang familier. Toko-toko kembali ramai, dan jalanan kembali dipadati kendaraan.
Namun, tidak jauh dari sana, sebuah gedung apartemen dengan bagian fasad yang hancur dan menghitam akibat jelaga masih dalam proses perbaikan, menjadi pengingat sunyi bahwa kawasan ini merupakan salah satu area yang mengalami kerusakan paling parah selama serangan itu.
Di sebuah kafe yang baru saja direnovasi, kami bertemu dengan Mahdi. Kami bukanlah orang asing. Tiga bulan lalu, di tempat yang sama, kami pernah berpapasan. Saat itu, kafe tersebut hampir sepenuhnya rata dengan tanah akibat serangan Amerika Serikat (AS)-Israel, dan Mahdi, sang pemilik, merangkak keluar dari bawah reruntuhan, nyaris kehilangan nyawanya.
Kini, kafe tersebut kembali beroperasi, menjual minuman, makanan penutup, cangkir teh, dan mug. Mahdi, yang mengenakan kaos hitam bertuliskan logo kafe, duduk di dalam kafenya, terlihat jauh lebih tenang daripada saat pertama kali kami bertemu.
"Kafe kami tutup selama hampir tiga bulan," katanya. "Kami menghabiskan tiga minggu berturut-turut, dari pagi hingga malam, dan menghabiskan biaya yang besar untuk rekonstruksi."
Namun, menurut Mahdi, aktivitas bisnis belum kembali ke level sebelum perang. "Perang telah menambah beban ekonomi masyarakat. Mereka jadi jarang berkumpul," katanya kepada kami.
"Saya harus mengakui bahwa selama 100 hari itu, kami sangat, sangat menderita akibat perang," kata Mahdi, suaranya berubah serius. "Saya berharap rakyat Iran dapat hidup dalam damai dan sejahtera. Tetapi kami berada di Timur Tengah, kekuatan-kekuatan besar yang menentukan apa yang akan terjadi."
Beberapa langkah dari sana, sebuah restoran cepat saji masih dalam proses perbaikan. Manajernya yang masih muda, Raqi, menunjuk ke pintu dan dinding yang rusak, serta peralatan yang tertembus pecahan peluru, sembari menceritakan kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan udara AS-Israel.
Ketika dia berbicara tentang lebih dari 100 anak yang tewas dalam serangan udara AS di sebuah sekolah dasar di Iran selatan pada awal perang, wajahnya memerah karena amarah.
"Anak-anak ini tidak ada hubungannya dengan perang. Mereka adalah sesama warga negara kita. Siapa pun di dunia akan marah mendengar berita semacam itu. AS berutang penjelasan yang meyakinkan kepada dunia," tuturnya.
Menurut data yang dirilis pada pertengahan April oleh Foundation of Martyrs and Veterans Affairs Iran, serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari telah menewaskan sedikitnya 3.468 orang di Iran, termasuk 1.460 warga sipil.
Setelah 40 hari perang yang mematikan, gencatan senjata sementara berhasil tercapai pada 8 April. Namun, gencatan senjata tersebut tidak membawa perdamaian yang sesungguhnya. Negosiasi yang berlarut-larut tidak membuahkan hasil yang berarti. Bentrokan militer langsung terus terjadi secara sporadis antara AS, Israel, dan Iran, yang berujung pada aksi saling serang rudal antara Iran dan Israel mulai Minggu (7/6) malam hingga Senin (8/6) sore waktu setempat.
Per Senin sore, baik Iran maupun Israel mengumumkan penghentian serangan mereka, namun tak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama ketenangan singkat ini akan bertahan.
Raqi mengatakan harapan terbesarnya saat ini adalah agar AS dan Iran segera mencapai sebuah kesepakatan, yang dapat mengakhiri perang ini secara definitif.
Meski AS mengeklaim bahwa kesepakatan sudah hampir tercapai, Raqi tidak tampak terlalu optimistis, sembari menyinggung rekam jejak AS yang "sering mengingkari janji" dan bahkan melancarkan serangan mendadak selama negosiasi sebelumnya dengan Iran.
"Jika mereka (AS) menjanjikan sesuatu, mereka seharusnya benar-benar menepatinya, bukan malah memainkan permainan politik atau memberikan janji-janji kosong," imbuh Raqi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Dewan UE dan Parlemen Eropa capai kesepakatan soal reformasi kebijakan migrasi
Indonesia
•
21 Dec 2023

Tabung Haji Malaysia siapkan cetak biru 2020-2024 tingkatkan layanan Haji
Indonesia
•
16 Dec 2019

Jerman masih jauh dari pencapaian target iklim 2030
Indonesia
•
05 Nov 2022

Konflik di Timur Tengah hambat rute pelayaran, perjalanan, dan penyaluran bantuan
Indonesia
•
06 Mar 2026


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
