
Feature – Desa di China raup 6,93 miliar rupiah, lebih dari 80 persen mengalir ke petani. Apa yang bisa dipelajari Indonesia?

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 22 Juli 2026 ini memperlihatkan pemandangan Desa Liuke di Boao, Kota Qionghai, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Pu Xiaoxu)
Kunming, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dari 22 hingga 26 September, ‘China Agricultural University-Tencent Global South Rural Entrepreneurs Development Initiative 2026’ digelar di Prefektur Otonom Etnis Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, China barat daya.
Sebanyak 40 partisipan muda asal Indonesia, Bangladesh, Laos, Nepal, Timor-Leste, Thailand, dan Vietnam mengunjungi desa Manluanzhan dan Hebian untuk mengamati perkembangan desa dan mempelajari industri lokal, sekaligus mencari jawaban bersama dari pertanyaan: Bagaimana desa dapat mempertahankan karakter uniknya sekaligus memperoleh momentum baru untuk berkembang di tengah perubahan kehidupan pedesaan.
Ni Luh Feby Karisma Putri, seorang pejabat manajemen pariwisata dari Desa Penglipuran di Bali, mengikuti program pertukaran tersebut atas rekomendasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
Penglipuran merupakan salah satu desa Hindu tradisional yang menjadi perwakilan Bali. Pariwisata merupakan industri utama desa tersebut, dan sebagian besar warganya telah beralih dari sektor pertanian. Pada 2023, Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik oleh UN Tourism. Saat ini, desa tersebut menerima rata-rata sekitar 2.000 wisatawan per hari.
"Pariwisata di desa kami menyatu dengan kehidupan tradisional penduduk desa. Para wisatawan dapat merasakan langsung budaya dan cara hidup setempat," ujar Putri.
Di Desa Manluanzhan, dia melihat pendekatan yang serupa dalam pengembangan pariwisata di China dan Indonesia.
Pada 2023, Manluanzhan meluncurkan sebuah inisiatif pembangunan pedesaan yang berpusat pada petani. Penduduk desa, badan usaha kolektif desa, universitas, organisasi sosial, dan pemerintah turut berkontribusi dalam upaya tersebut.
Dalam kurun setahun, desa itu secara bertahap berkembang menjadi ruang ekonomi baru yang memadukan bisnis, layanan, dan aktivitas yang berorientasi pada pariwisata. Pada 2025, bisnis-bisnis baru di desa tersebut meraup pendapatan lebih dari 2,6 juta yuan, dengan lebih dari 80 persen di antaranya disalurkan kepada petani, sementara sisanya diberikan kepada badan usaha kolektif desa.
*1 yuan = 2.666 rupiah
Dari Bali hingga Xishuangbanna, kedua desa tidak sekadar menyerahkan pengembangan pariwisata kepada pihak luar. Sebaliknya, dua desa itu berupaya melibatkan penduduk dan badan usaha kolektif desa dalam pembangunan serta mengintegrasikan sumber daya lokal ke dalam pariwisata.
Bagi Putri, pengalaman tersebut menawarkan pengakuan lintas batas atas pendekatan bersama.
Dibandingkan dengan Penglipuran, Desa Setu di Bogor, Provinsi Jawa Barat, terutama masih mengandalkan sektor pertanian. Desa tersebut memiliki sekitar 6.000 penduduk, yang sebagian besar dari kalangan Muslim, dan warga terutama terlibat di bidang budi daya tanaman serta peternakan dan pemeliharaan unggas.
"Saya mengikuti program ini terutama untuk mempelajari pengalaman China dan membantu meningkatkan perekonomian desa saya serta kehidupan masyarakatnya," tutur Kepala Desa Setu Esa Asmarini.
Di Xishuangbanna, Asmarini mengamati bahwa warga Desa Hebian tetap menjalankan aktivitas-aktivitas tradisional, seperti menyadap karet, membuat minuman beralkohol, dan beternak lebah, sembari mengembangkan bisnis baru seperti penginapan (homestay).
Desa Manluanzhan dan Hebian juga mengeksplorasi penjualan produk dan layanan desa melalui siaran langsung daring (livestreaming).
Praktik-praktik tersebut mendorong Asmarini untuk mempertimbangkan bagaimana Desa Setu dapat membangun peluang pembangunan baru dengan bertumpu pada perekonomian berbasis pertanian.
"Pelatihan tentang e-commerce memberi saya banyak inspirasi," ungkapnya. "Teknologi drone dapat sangat membantu di bidang pertanian, namun karena keterbatasan pendanaan dan keterampilan, penerapannya di desa kami masih sulit dilakukan."
Satu desa dikenal dengan budaya tradisional dan pariwisatanya, sementara desa lainnya masih mengandalkan sektor pertanian. Jalur pembangunan keduanya berbeda, tetapi di Xishuangbanna, para perwakilan dari kedua desa berfokus pada pertanyaan yang sama: Bagaimana memperoleh dukungan pemerintah sekaligus mendorong warga desa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan.
Sejak 1993, Penglipuran secara bertahap mengembangkan pariwisata melalui dukungan pemerintah. "Pemerintah membantu kami membangun jalan dan toilet," kata Putri.
Dia menuturkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan dukungan pemerintah terhadap infrastruktur dan berharap dapat menyampaikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah setelah pulang ke Indonesia.
Bagi Setu, yang masih dalam proses berkembang, Asmarini juga berharap memperoleh dukungan yang lebih besar dari pemerintah dan warga desa, serta lebih banyak pelatihan keterampilan dan peningkatan infrastruktur.
Ahmad Alam, wakil ketua Himpunan Alumni IPB University (HA IPB), menyampaikan, "Pembangunan pedesaan tidak hanya tentang infrastruktur, pertanian, dan teknologi. Hal itu terkait dengan membangun sebuah ekosistem. Di desa Manluanzhan dan Hebian, saya melihat bagaimana pertanian, sumber daya lokal, kewirausahaan, pariwisata, budaya, dan partisipasi masyarakat saling terhubung."
Dari Bali hingga Bogor, dan dari Desa Manluanzhan hingga Desa Hebian di Xishuangbanna, setiap desa memiliki sumber daya alam yang berbeda dan menghadapi tantangan pembangunan yang berbeda pula.
Pertukaran tersebut menunjukkan kepada para partisipan asal Indonesia bahwa tidak ada satu jawaban tunggal untuk pembangunan pedesaan. Koordinasi antara desa, universitas, masyarakat, dan pemerintah, disertai revitalisasi sumber daya lokal, menjelma menjadi arah bersama yang dieksplorasi oleh desa-desa di berbagai belahan dunia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

‘Purchasing Managers Index’ manufaktur Indonesia tertinggi di ASEAN-5
Indonesia
•
25 Oct 2021

Feature – Dari kapal Cheng Ho ke jalan tol, bagaimana hubungan Indonesia-China terus berlanjut?
Indonesia
•
27 Aug 2026

Neraca perdagangan RI surplus 4,53 miliar dolar pada Maret 2022
Indonesia
•
18 Apr 2022

Ratusan perusahaan China berpartisipasi dalam pameran makanan terbesar di Indonesia
Indonesia
•
15 Nov 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
