Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman

Seorang relawan membagikan makanan gratis bagi mereka yang membutuhkan di dapur amal di Sanaa, Yaman, pada 15 Maret 2026. (Xinhua/Mohammed Mohammed)

Perang berkepanjangan di Yaman telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan paling parah di dunia.

 

Sanaa, Yaman (Xinhua/Indonesia Window) – Setiap pagi, Abdul Qader Khaled, warga Sanaa, Yaman, datang lebih awal ke sebuah dapur amal sederhana, bergabung dalam antrean untuk mendapatkan makanan gratis bagi keluarganya yang beranggotakan lima orang.

Dia menggenggam wadah plastik dan tas usang, menunggu dengan sabar jatah makanan hari itu.

"Saya datang ke sini lebih awal setiap hari," tuturnya. "Kadang saya khawatir akan pulang dengan tangan hampa. Tapi syukurlah, pengelola dapur memanggil nama saya, dan saya bisa membawa pulang makanan untuk keluarga."

Bagi Khaled dan ratusan warga setempat lainnya, makanan gratis yang disediakan dapur tersebut, yang dikelola oleh direkturnya Abu Badr al-Yamani dengan bantuan relawan lokal serta didukung donasi masyarakat, menjadi salah satu hal yang paling mereka nantikan setiap hari.

Menurut al-Yamani, dapur itu memasak dalam jumlah besar setiap hari untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 500 keluarga, termasuk warga miskin, orang sakit, pengangguran, dan rumah tangga berpenghasilan rendah.

"Kebahagiaan orang-orang yang membutuhkan saat menerima kantong makanan ini sungguh luar biasa, dan itu adalah berkah besar ... Ini semakin memotivasi kami untuk membantu mereka, meskipun makanan ini tak sebanding dengan kebutuhan mereka," ujarnya.

Meski sumber daya terbatas, para relawan mengatakan mereka tetap berkomitmen menjalankan program distribusi makanan, bertekad meringankan beban keluarga rentan seiring tantangan kemanusiaan yang lebih luas terus berlangsung.

Abu Zaid, salah satu relawan, mengungkapkan kebahagiaannya dalam membantu warga yang membutuhkan. "Sejujurnya, saya melupakan semua rasa lelah ketika melihat anak-anak tersenyum saat menerima makanan gratis ini," ungkapnya.

Di dalam dapur kecil itu, sebagian relawan bekerja di sekitar panci-panci besar berisi makanan yang sedang dimasak, sementara yang lain bergegas mengisi wadah-wadah dengan porsi kecil-kecil, berusaha melayani sebanyak mungkin orang sebelum persediaan hari itu habis.

Yaser al-Absi, relawan yang bertugas memasak, mengatakan bahwa membantu mereka yang membutuhkan memberinya ketenangan batin.

"Ketika kami membawa kebahagiaan dan senyuman bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan, kami merasakan kebahagiaan dan ketenangan yang tak terlukiskan," katanya kepada Xinhua, "terutama ketika kami melihat makanan itu sampai kepada mereka yang benar-benar berhak."

Upaya al-Yamani dan para relawan merupakan bagian dari respons yang lebih luas terhadap krisis kemanusiaan yang memengaruhi jutaan orang.

Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok Houthi mengambil alih ibu kota di wilayah utara, Sanaa, pada 2014. Perang berkepanjangan itu telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan paling parah di dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Yaman akan kembali menghadapi tahun penuh tantangan kemanusiaan yang parah, dengan lebih dari 22 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan pada 2026.

Bagi banyak keluarga di Sanaa, antrean harian di luar dapur amal kecil tersebut tetap menjadi sumber harapan dan bertahan hidup yang sederhana namun sangat penting.

Namun, terlepas dari berbagai upaya bantuan yang terus berjalan, para pengamat lokal melaporkan bahwa jumlah warga yang mencari bantuan meningkat dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan kesulitan ekonomi yang lebih luas yang dihadapi banyak rumah tangga.

Selain konflik dalam negeri yang berlangsung, eskalasi krisis regional turut menambah ketidakpastian.

Kekhawatiran kemanusiaan meningkat di tengah ketegangan regional yang dipicu oleh serangan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran, yang dikhawatirkan dapat meluas ke Yaman dan semakin memperburuk kondisi di negara tersebut.

"Saat kami memantau perkembangan di kawasan, kekhawatiran meningkat bahwa ketegangan dan eskalasi yang berlanjut dapat semakin membebani situasi kemanusiaan yang sudah rapuh di Yaman," kata Abdul Rahman Yahya, seorang politikus Yaman.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait