
Studi: Fluktuasi tajam suhu harian jadi ancaman iklim baru

Foto yang diabadikan pada 29 Juni 2024 ini menunjukkan sungai yang kering di Desa Mababe, Botswana. (Xinhua/Tshekiso Tebalo)
Fluktuasi suhu harian yang signifikan semakin intensif terjadi, baik dalam frekuensi maupun tingkat keparahannya sebagai akibat dari perubahan iklim, menjadi ancaman serius dan nyata bagi kesehatan masyarakat.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa fluktuasi suhu dari hari ke hari yang tiba-tiba dan signifikan semakin intensif, baik dalam frekuensi maupun tingkat keparahannya sebagai akibat dari perubahan iklim, menjadi ancaman serius dan nyata bagi kesehatan masyarakat.Studi yang diterbitkan di Nature Climate Change tersebut dilakukan oleh para ilmuwan dari Universitas Nanjing dan Institut Fisika Atmosfer (Institute of Atmospheric Physics/IAP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Studi ini menunjukkan bahwa di wilayah lintang rendah hingga menengah, variasi suhu yang tajam semakin sering terjadi dan ekstrem. Melalui teknik yang dikenal sebagai optimal fingerprinting, para peneliti mengonfirmasi bahwa emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia menjadi pendorong utama di balik tren ini.Serangkaian proyeksi iklim menunjukkan bahwa situasi itu akan terus memburuk. Dalam skenario emisi tinggi, frekuensi perubahan suhu yang tiba-tiba ini dapat meningkat sekitar 17 persen pada tahun 2100, dengan intensitas totalnya meningkat hingga 20 persen. Ini akan memengaruhi kawasan-kawasan yang secara kolektif dihuni oleh lebih dari 80 persen populasi global.Studi tersebut juga menguraikan mekanisme fisik di balik tren tersebut. "Pemanasan global memperburuk kekeringan tanah dan memperkuat variabilitas tekanan permukaan laut dan kelembapan tanah," kata Xu Zhongfeng, seorang profesor di IAP. "Perubahan-perubahan ini mengurangi kapasitas termal daratan dan memperbesar fluktuasi tutupan awan serta radiasi matahari. Akibatnya, perubahan suhu hari ke hari menjadi lebih ekstrem."Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran khusus adalah dampak kesehatan yang signifikan terkait dengan perubahan mendadak ini. Berdasarkan data mortalitas dari Provinsi Jiangsu di China timur dan Amerika Serikat, studi tersebut menunjukkan hubungan yang kuat, hampir eksponensial, antara variabilitas suhu hari ke hari dan mortalitas secara keseluruhan. Risiko penyakit kardiovaskular dan pernapasan pun meningkat secara signifikan."Studi ini menetapkan variabilitas suhu hari ke hari yang ekstrem sebagai kategori peristiwa iklim ekstrem yang unik dan independen," kata Fu Congbin, seorang akademisi CAS."Pemanasan global secara sistematis memperkuat fluktuasi suhu ini di kawasan-kawasan dengan populasi terbanyak di dunia, yang menimbulkan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat dan stabilitas ekosistem. Kami mendesak badan-badan ilmiah internasional terkait untuk secara resmi mengakui hal ini sebagai jenis peristiwa cuaca ekstrem yang baru," katanya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China temukan bakteri potensial pemicu radang usus besar
Indonesia
•
25 Nov 2025

Sampel Chang'e-6 ungkap rahasia tumbukan asteroid di sistem Bumi-Bulan
Indonesia
•
12 May 2026

Peneliti dari China dan Pakistan kembangkan metode baru untuk obati penyakit ‘celiac’
Indonesia
•
29 May 2023

COVID-19 - Uji vaksin Rusia aman dan diterima tubuh
Indonesia
•
16 Jul 2020


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
