
Penemuan fosil Periode Jura di China Timur ungkap wawasan baru perihal asal-usul burung

Ilustrasi. (Fausto García-Menéndez on Unsplash)
Fosil burung ekor pendek tertua, yang berasal dari sekitar 150 juta tahun yang lalu, ditemukan di Provinsi Fujian, China timur. Temuan ini menunjukkan bahwa burung kemungkinan berasal dari masa yang lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.
Fuzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil menggali fosil burung ekor pendek tertua, yang berasal dari sekitar 150 juta tahun yang lalu, di Provinsi Fujian, China timur. Temuan ini menunjukkan bahwa burung kemungkinan berasal dari masa yang lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.Fosil burung Baminornis zhenghensis itu ditemukan di wilayah Zhenghe, Provinsi Fujian. Ujung ekornya yang pendek berada di sebuah tulang majemuk (compound bone) yang disebut pygostyle, sebuah fitur unik yang ditemukan pada burung modern. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur tubuh burung modern telah muncul pada Periode Jura Akhir, 20 juta tahun lebih awal dari yang diketahui sebelumnya.Fosil burung tersebut memiliki kombinasi ciri-ciri yang unik, termasuk bahu dan gelang panggul yang mirip dengan burung modern serta tangan yang mirip dengan dinosaurus nonunggas, sebuah fenomena yang sangat menarik dan kontradiktif, tutur Wang Min, ilmuwan utama dalam tim penelitian ini yang juga peneliti di Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata (Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology/IVPP) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS)."Ini merupakan temuan yang luar biasa. Temuan ini mengubah situasi sebelumnya bahwa Archaeopteryx merupakan satu-satunya burung yang ditemukan pada Periode Jura," kata Zhou Zhonghe, seorang akademisi CAS.Berdasarkan temuan baru tersebut, para ilmuwan berspekulasi bahwa kemunculan burung paling awal dapat ditelusuri hingga ke masa yang lebih awal dari perkiraan sebelumnya, kemungkinan sekitar 172 hingga 164 juta tahun yang lalu, ungkap Wang.Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari IVPP dan Institut Survei Geologis Fujian itu dipublikasikan dalam jurnal Nature edisi terbaru.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Media: Gelombang panas ekstrem melanda sebagian besar AS
Indonesia
•
13 Jul 2024

Dengan teknologi insinerasi, sampah diubah jadi energi di PLTSa China
Indonesia
•
10 Jul 2025

Taikonaut Shenzhou-15 tuntaskan ‘spacewalk’ kedua mereka
Indonesia
•
03 Mar 2023

China capai komunikasi laser intersatelit berkecepatan ultratinggi
Indonesia
•
14 Jan 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
