
Gelombang 50.000 migran guncang Ceuta, Swedia dan Finlandia mulai waspadai ancaman keamanan

Foto yang diabadikan pada 23 Mei 2025 ini menunjukkan bendera Uni Eropa di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Helsinki, Finlandia (Xinhua/Indonesia Window) – Kekhawatiran kian meningkat di Swedia dan Finlandia pada Jumat (31/7) terkait potensi risiko migrasi dan keamanan, menyusul arus masuk migran ilegal dalam jumlah besar ke Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara.
Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson mendesak Spanyol untuk bertindak cepat guna "mengendalikan situasi", sambil menekankan bahwa negara tersebut harus memenuhi kewajibannya di bawah kerangka kerja sama Schengen.
"Jika berbagai perkembangan yang terjadi berisiko memengaruhi keamanan atau situasi migrasi Swedia, pemerintah siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga ketertiban dan kendali," ungkap Kristersson kepada Kantor Berita Swedia, TT.
Menteri Imigrasi Swedia Johan Forssell pada Jumat menyerukan sebuah pertemuan luar biasa dengan mitra setaranya dari negara-negara Nordik. Dia menyebutkan Swedia siap mendukung Spanyol melalui Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex), jika Madrid mengajukan permohonan bantuan.
Forssell juga menyerukan peningkatan tekanan terhadap negara-negara tetangga guna memperkuat pengawasan perbatasan dan mencegah pergerakan sekunder para migran di dalam wilayah Uni Eropa (UE).
Dia mengatakan Spanyol harus bertanggung jawab untuk memulihkan kendali atas perbatasan luar UE. "Gambar-gambar yang beredar sangat mengkhawatirkan. Situasinya tampak seperti kekacauan," ujarnya.
Perdana Menteri Sementara sekaligus Menteri Keuangan Finlandia Riikka Purra menuturkan langkah-langkah di tingkat UE diperlukan untuk membantu Spanyol mengendalikan situasi sesuai dengan aturan migrasi UE.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Purra mempertanyakan perihal pelajaran yang dapat dipetik dari krisis pengungsi pada 2015 silam.
Dia menegaskan bahwa Finlandia harus melindungi keamanannya, seraya menambahkan pengawasan perbatasan internal dapat segera diberlakukan kembali jika diperlukan.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Finlandia Elina Valtonen juga mengatakan di media sosial X bahwa situasi di Ceuta harus dikendalikan. "Pemulangan bagi mereka yang masuk tanpa izin harus segera dilakukan," desaknya.
Otoritas Spanyol memperkirakan bahwa sekitar 50.000 migran memasuki Ceuta dari negara tetangga, Maroko, selama dua hari terakhir, menandai salah satu krisis migrasi ilegal terbesar yang pernah tercatat di perbatasan wilayah kantong tersebut.
Jumlah korban tewas di antara mereka yang berusaha mencapai Ceuta melalui jalur laut telah bertambah menjadi sedikitnya 57 orang per Jumat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Opini – Hubungan China-AS yang sehat akan hadirkan manfaat bagi masyarakat global
Indonesia
•
16 Nov 2023

Israel terima respons Hamas soal usulan gencatan senjata di Gaza, namun belum rilis balasan resmi
Indonesia
•
20 Aug 2025

Pasukan koalisi pimpinan AS serbu Suriah utara, tangkap komandan senior ISIS
Indonesia
•
27 Jul 2025

Netanyahu sebut pengiriman senjata dari AS turun drastis beberapa bulan terakhir
Indonesia
•
25 Jun 2024


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
