
Gencatan senjata AS-Iran hampir berakhir, ketegangan di Selat Hormuz bayangi perundingan

Seorang pria memotret kapal perang Iran di Selat Hormuz di Iran selatan, pada 30 April 2019. (Xinhua/Ahmad Halabisaz)
Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz yang masih berlangsung merupakan masalah paling serius yang mengancam perundingan dengan Iran.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Gencatan senjata yang rapuh selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4) malam waktu setempat, sehingga membayangi prospek perundingan baru dan masa depan Selat Hormuz, setelah Presiden AS Donald Trump menggambarkan perpanjangan gencatan senjata sebagai "sangat kecil kemungkinannya".
Ketika ditanya apakah dia memperkirakan serangan akan segera dilanjutkan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, Trump mengatakan, "Jika tidak ada kesepakatan, saya tentu memperkirakannya."
Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa Washington berupaya menjaga jalur diplomatik tetap terbuka. Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin putaran pertama perundingan tatap muka, rencananya berangkat ke Islamabad pada Selasa (21/4) untuk melakukan pembicaraan, seperti dilansir Axios, mengutip sumber-sumber AS.
Memberi sinyal keterbukaan bersyarat untuk berinteraksi, Trump mengatakan kepada The Washington Post bahwa dia bersedia bertemu para pemimpin senior Iran jika terjadi terobosan. Dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg, Trump menyatakan kehadiran pribadinya dalam perundingan mungkin tidak diperlukan.
Namun, sinyal dari Teheran tetap beragam. Axios melaporkan bahwa tim Iran menerima lampu hijau dari pemimpin tertinggi pada Senin (20/4) malam waktu setempat untuk terlibat dalam perundingan dengan Amerika Serikat, tetapi para pejabat belum mengonfirmasi partisipasi tersebut.
Sebelumnya pada Senin yang sama, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa Iran saat ini belum memiliki rencana untuk mengadakan putaran kedua perundingan dan bahwa tindakan Amerika Serikat sama sekali tidak menunjukkan keseriusannya dalam menempuh proses diplomatik.
"Tindakan provokatif" dan "pelanggaran gencatan senjata" oleh Amerika Serikat merupakan hambatan utama bagi kelanjutan perundingan damai antara kedua negara, kata Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi pada Senin.
Berbicara secara anonim kepada The Washington Post, seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa nada pernyataan publik Trump dan blokade Amerika Serikat yang masih berlangsung merupakan dua masalah paling serius yang mengancam perundingan. Dia menambahkan bahwa meskipun kedua pihak pada dasarnya telah menyepakati garis besar kesepakatan, "maksimalisme" publik Trump berisiko menggagalkan kemajuan diplomatik.
Ketegangan tetap tinggi di Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Iran sempat membuka kembali selat tersebut setelah gencatan senjata awal, tetapi kemudian memberlakukan pembatasan baru setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang coba menembus blokade pada akhir pekan.
Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga kesepakatan damai difinalisasi, kata Trump dalam wawancara telepon.
"Mereka ingin saya membukanya. Orang-orang Iran sangat menginginkan selat itu dibuka. Saya tidak akan membukanya sampai kesepakatan ditandatangani," katanya.
Meskipun terjadi kebuntuan maritim, beberapa tanda normalisasi domestik mulai terlihat di Iran. Otoritas Penerbangan Sipil Iran pada Senin mengumumkan bahwa bandar udara (bandara) utama Teheran, Bandara Internasional Imam Khomeini dan Bandara Internasional Mehrabad, telah dibuka kembali untuk penerbangan penumpang setelah berpekan-pekan ditutup akibat perang, lapor kantor berita semiresmi Iran, Fars.
Gencatan senjata awal sebelumnya dipuji sebagai langkah deeskalasi yang jarang terjadi menyusul konflik selama lebih dari tujuh pekan. Perundingan putaran pertama di Islamabad awal bulan ini tidak menghasilkan terobosan, dengan kedua pihak sejak itu saling melontarkan kritik di ruang publik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

UE sepakati target iklim 2040, pangkas emisi hingga 90 persen
Indonesia
•
12 Dec 2025

Pengadilan India dukung putusan denda 162 juta dolar AS terhadap Google
Indonesia
•
01 Apr 2023

Jumlah kasus Ebola di RD Kongo hampir tembus 600 di tengah peringatan meluasnya penyebaran
Indonesia
•
10 Jun 2026

250 hari di laut, AS ganti USS Lincoln dengan kapal induk George Washington
Indonesia
•
15 Aug 2026


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
