Kajian Ilmiah – Harta yang membahagiakan vs harta yang menjurumuskan

Golongan pertama adalah mereka

Ust. Muhammad Irfandi, Lc., menyampaikan materi kajian ilmiah berjudul ‘Harta yang membahagiakan vs harta yang menjurumuskan’, pada acara Weekend Berkah, di HalalVerse, Vivo Mall, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/10/2025). (Indonesia Window)

Golongan pertama adalah mereka yang diberi ilmu dan harta, dan ini adalah golongan yang paling diidam-idamkan oleh manusia (terutama Muslimin).

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Bukan warna kulit, ras, etnik atau pun keturunan, tapi adalah soal ilmu dan harta yang menjadi dasar Islam mengelompokkan manusia.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ﷺ) bersabda bahwa “dunia itu milik empat golongan”.

Penjelasan mengenai empat golongan ini dijabarkan oleh Ustadz Muhammad Irfandi, Lc., dalam kajian bertema ‘Harta yang membahagiakan vs harta yang menjurumuskan’, pada acara Weekend Berkah, di HalalVerse, Vivo Mall, Bogor, Jumat (24/10).

Golongan pertama adalah mereka yang diberi ilmu dan harta, dan ini adalah golongan yang paling diidam-idamkan oleh manusia (terutama Muslimin).

Selanjutnya, menurut hadits tersebut, golongan ke dua adalah mereka yang diberi ilmu tapi tidak diberikan harta. “Karena ilmu yang dia miliki, kemudian dia berkata ‘kalau saya diberi seperti orang yang pertama, maka saya pun akan melakukan hal yang sama,” kata Ust. Irfandi.

“Kalau kita punya harta, jangan sampai kita tidak punya ilmu. Kalau kita punya ilmu dan harta, maka ini yang terbaik,” imbuh ustadz.

Berikutnya adalah golongan ketiga, adalah mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala (ﷻ) berikan harta saja, tapi tidak diberi ilmu. “Maka dengan kejahilannya (kebodohan), dia habiskan semua hartanya siang dan malam, tapi untuk bermaksiat kepada Allah (ﷻ), ini kata Nabi,” jelas ustadz.

“Orang seperti itu aneh, karena orang yang tidak punya ilmu, hartanya dihabiskan dengan sembrono (sembarangan). Makanya, untuk orang-orang yang memiliki harta, aset berharga yang mereka harus amankan setelah harta adalah mendidik generasi setelahnya untuk menjaga dan mengembangkan hartanya,” ungkapnya.

Menurut ustadz, jika aset ini – yaitu keturunannya atau penerusnya atau pewarisnya – tidak dipersiapkan dengan ilmu, maka bisa jadi harta yang banyak itu akan hilang begitu saja.

“Makanya kadang-kadang orang-orang kaya membuat anak-anak mereka itu seperti anak orang miskin,” tutur Ust. Irfandi, seraya menambahkan, para orangtua yang menerapkan pendidikan seperti ini sering mengatakan kepada anak-anak mereka untuk berjuang, tidak mengandalkan harta orangtua, dan harus bekerja dengan sungguh-sungguh kalau ingin memperoleh uang.

Menurut Ust. Irfandi, dalam masalah dunia saja, jika orang punya harta tapi tidak punya ilmu, maka dia akan hancur.

Kemudian, golongan manusia yang keempat adalah mereka yang tidak diberi harta dan juga tidak diberi ilmu.

“Ini yang paling menyedihkan. Orang ini mengatakan kalau saya diberi harta seperti orang yang ketiga tadi, yaitu orang yang kaya raya, orang yang bermaksiat dengan hartanya, maka aku pun akan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang ketiga.”

Kata Rasulullah (ﷺ), golongan orang yang ketiga dan yang keempat sama-sama berada dalam dosa.

“Makanya, kalau orang tidak mendapat harta yang banyak, makaa dia harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya,” tegas Ketua Lembaga Amil Zakat (LAZ) Solidaritas Insan Peduli (SIP) ini.

Ust. Irfandi mengutip kata-kata Imam Hasan Al Basri rahimahullahu ta’ala, yang mengatakan, “Seandainya engkau kalah dalam hal dunia, maka engkau harus berjuang atau menang dalam masalah akhirat.”

Namun demikian, lanjutnya, hal tersebut bukan berarti tidak boleh memiliki harta.

“Orang kaya yang tidak dibarengi dengan ilmu yang kuat, akan cenderung dipermainkan oleh ujian-ujian harta, sehingga akan kalahjuga  dengan ujian-ujian dunia,” terang ustadz.

Selanjutnya Ust. Irfandi menyitir firman Allah (ﷻ) yang artinya, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan suka mengeluh.”

“Makanya, ibu-ibu yang sering mendapatkan bapak-bapaknya mengeluh, harus bersyukur. Karena bapak-bapaknya masih manusia bukan jin. Kebalikannya, kalau bapak-bapak dapat istri yang cerewet, bersyukurlah kepada Allah (ﷻ), berarti istrinya bapak-bapak adalah manusia tulen, asli manusia,” seloroh ustadz.

Sifat manusia lainnya yang disebukan Allah (ﷻ) adalah manusia suka merasa dirinyalah yang paling susah di Bumi ini jika sedang ditimpa oleh kemalangan. Padahal masih banyak orang yang lebih susah dari dirinya.

“Kalau kita diuji dengan harta yang sedikit, usaha yang semakin kurang stabil, atau apa pun dengan sesuatu yang kurang baik, kita akan dekat dengan Allah (ﷻ). Tapi kalau manusia diuji dengan kesenangan, harta yang banyak, maka cenderung semakin pelit, semakin jauh dari Allah (ﷻ).”

Sehingga, lanjut ustadz, baik kebaikan maupun kesengsaraan, keduanya adalah ujian hidup yang berasal dari Allah (ﷻ).

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr, Allah (ﷻ) mengatakan, “Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku."

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku."

“Nah, dalam masalah harta ini, kita paham bahwa harta itu ada dua jenis. Ada harta yang membahagiakan kita, dan ada harta yang menjadi penjerumus ke dalam nerakanya Allah (ﷻ),” ucap Ust. Irfandi.

Dia mengingatkan, Nabi Muhammad (ﷺ) juga bersabda bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari kaya hatinya seseorang.

“Jika hati sudah kaya, maka harta hanya menjadi alat yang berada di tangan. Tapi bila hati miskin, maka harta akan menjadi penguasa dalam dirinya, menjadikannya tawanan dari miliknya sendiri. Karena itu, orang beriman harus berhati-hati agar tidak diperbudak oleh harta yang seharusnya menjadi amanah.”

Ustadz mengutip pernyataan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam kitab Al-Fawa’id mengatakan bahwa harta yang tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah (ﷻ)  akan menjadi musibah yang berat. Sebaliknya, bagi orang yang beriman, harta adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah (ﷻ), dengan  menggunakannya di jalan kebaikan dan kemaslahatan.

Teladan yang sangat memesona tentang hal ini dapat kita lihat dalam kisah para sahabat Nabi (ﷺ) ketika Perang Tabuk. Saat itu, Umat Islam sedang menghadapi masa sulit karena paceklik. Rasulullah (ﷺ) memerintahkan para sahabat untuk menyumbangkan apa pun yang mereka mampu.

Menjawab seruan Nabi (ﷺ), Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu datang dengan membawa setengah dari hartanya, dengan niat mengalahkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam hal sedekah. Ketika Rasulullah (ﷺ) bertanya apa yang dia sisakan untuk keluarganya, Umar menjawab bahwa dia meninggalkan separuh hartanya. Tidak lama kemudian datang Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan Rasulullah (ﷺ) menanyakan hal yang sama. Dengan penuh keyakinan, Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Begitulah keteguhan iman yang menunjukkan bahwa rezeki sejati bersumber dari Allah (ﷻ), bukan dari usaha semata.

Setelah itu datang pula Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, menyerahkan tiga ratus ekor unta lengkap dengan perlengkapan perangnya.

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa sedekah itu ibarat perang, di mana akan terlihat siapa yang pemberani dan siapa yang pengecut. Mereka yang berani bersedekah di jalan Allah sejatinya telah memenangkan pertempuran melawan hawa nafsu dan cinta dunia.

Dalam konteks kehidupan modern, para pengusaha Muslim juga diingatkan agar mempelajari fiqih jual beli dan fiqih muamalah.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Tidak boleh ada yang berdagang di pasar kami kecuali orang yang paham agama, agar dia tahu mana yang halal dan mana yang haram, mana akad yang benar dan mana yang batil.” Dengan ilmu agama, seorang pengusaha akan mampu menjaga dirinya dari harta yang haram, serta memahami batas-batas yang ditetapkan oleh Allah dalam bermuamalah.”

Ketika Allah (ﷻ) memberikan harta yang banyak, maka bentuk rasa syukur yang paling utama adalah dengan memperbanyak infak dan sedekah di jalan-Nya. Jangan sampai seseorang merasa bahwa harta yang dimilikinya adalah hasil kerja kerasnya semata, karena kepintaran dalam mengatur keuangan, kemampuan berbisnis, atau kecerdasan dalam membaca peluang. Sikap seperti itu menyerupai Qarun, yang dengan sombong berkata bahwa dia memperoleh kekayaannya karena ilmunya sendiri. Karena kesombongan itu, Allah menenggelamkan Qarun beserta hartanya ke dalam Bumi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya.

Dari kisah dan nasihat ini, kita belajar bahwa harta adalah amanah sekaligus ujian dari Allah (ﷻ). Seorang pengusaha Muslim sejati bukanlah yang mengejar kekayaan tanpa batas, melainkan yang berusaha mendapatkan harta yang halal dan penuh berkah. Dia harus memahami bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada tumpukan harta, melainkan pada hati yang lapang, yang senantiasa bersyukur, ikhlas, dan dekat kepada Allah (ﷻ).

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait