
Harga energi Eropa berfluktuasi tajam di tengah perubahan sinyal AS-Iran

Harga bahan bakar ditampilkan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di London, Inggris, pada 18 Maret 2026. (Xinhua/Li Ying)
Harga energi Eropa berfluktuasi tajam, dengan pasar minyak dan gas mengalami perubahan arah beberapa kali akibat sinyal yang terus berubah-ubah dari Amerika Serikat dan Iran, yang dengan cepat memengaruhi ekspektasi investor dan merembet ke pasar ekuitas.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Harga energi Eropa berfluktuasi tajam pada Senin (23/3), dengan pasar minyak dan gas mengalami perubahan arah beberapa kali akibat sinyal yang terus berubah-ubah dari Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang dengan cepat memengaruhi ekspektasi investor dan merembet ke pasar ekuitas.
Pada awal perdagangan (trading), harga minyak mentah Brent naik melampaui 113 dolar AS per barel, memperpanjang total kenaikan menjadi sekitar 50 persen sejak konflik dimulai. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi pengiriman minyak global.
*1 dolar AS = 16.990 rupiah
Harga minyak kemudian anjlok tajam usai Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya telah melangsungkan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan Iran, serta memerintahkan penundaan lima hari atas rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Harga minyak mentah Brent merosot lebih dari 10 persen hingga di bawah 100 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Setelah Iran membantah adanya negosiasi dan memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap fasilitas energi regional, harga minyak mengalami rebound ke kisaran 105 dolar AS per barel sebelum turun lagi mendekati 101 dolar AS pada sesi trading sore.
Harga gas Eropa menunjukkan pola volatilitas yang serupa. Kontrak berjangka Dutch TTF yang menjadi acuan naik melampaui 63 euro atau setara 73 dolar AS per megawatt-jam pada awal trading. Setelah pernyataan Trump, harga turun ke kisaran 54 euro (62 dolar AS), sebelum naik lagi ke sekitar 59 euro (68 dolar AS) usai respons Iran. Harga kemudian turun lagi ke angka sekitar 55 euro (63 dolar AS) pada sesi trading sore.
*1 euro = 19.411 rupiah
Fluktuasi tajam di pasar energi berdampak langsung pada ekuitas. Indeks FTSE 100 Inggris sempat merosot lebih dari 1,8 persen, sementara indeks DAX Jerman turun di atas 2 persen pada awal trading. Namun, saat harga energi mereda, penurunan tersebut mulai berkurang dan sentimen pasar membaik, dengan FTSE 100 naik sekitar 0,6 persen dan DAX menguat sekitar 2,4 persen pada sesi trading sore.
Para analis menilai volatilitas hari itu menunjukkan seberapa besar pengaruh perkembangan geopolitik terhadap harga energi dan pasar keuangan. Perubahan cepat dalam ekspektasi terkait risiko pasokan dan prospek diplomatik terus memicu fluktuasi harga yang tajam. Ke depan, tren harga akan sangat bergantung pada apakah upaya diplomatik mampu meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas di rute-rute utama pasokan energi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kapal di sepanjang Sabuk Ekonomi Sungai Yangtze konsumsi listrik 74,9 juta kWh
Indonesia
•
08 Jan 2023

Laporan APEC serukan reformasi struktural dan pemulihan hijau
Indonesia
•
16 Nov 2022

Kelapa sawit masa depan energi bersih Indonesia
Indonesia
•
11 Dec 2019

Indeks keyakinan konsumen meningkat pada November
Indonesia
•
08 Dec 2021


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
