Singapura, Indonesia, dan Malaysia hadapi risiko kabut asap parah pada 2025

Jembatan Ampera terlihat di tengah asap yang dipicu oleh kebakaran lahan gambut di Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, pada 12 Oktober 2023. (Xinhua/M. Hatta)
Harga produk pertanian yang tinggi dan peningkatan deforestasi telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran dan kabut asap.
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Singapura, Indonesia, dan Malaysia menghadapi risiko sedang untuk mengalami peristiwa kabut asap lintas perbatasan yang parah pada sisa tahun 2025, menurut sebuah penilaian yang dirilis pada Senin (28/7) oleh Institut Hubungan Internasional Singapura.Laporan terbaru itu menandai peningkatan dibandingkan dengan penilaian institut itu pada 2024, yang menilai bahwa risiko yang dihadapi "rendah" pada skala tiga tingkat mereka, yakni rendah, sedang, dan tinggi.Harga produk pertanian yang tinggi dan peningkatan deforestasi telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran dan kabut asap, sebut laporan itu, yang juga menyebutkan adanya lonjakan titik panas dan kabut asap di beberapa wilayah Sumatra pada pertengahan Juli tahun ini, dengan kabut asap lintas perbatasan berembus dari Sumatra tengah ke beberapa wilayah Semenanjung Malaysia.Perubahan ekonomi dan kebijakan juga dapat secara tidak sengaja mendorong deforestasi dan meningkatkan risiko kabut asap jika pembakaran terus digunakan untuk pembukaan lahan, seperti diperingatkan dalam laporan itu.Ke depannya, tren iklim menunjukkan kemungkinan terjadinya musim kering yang tidak biasa antara tahun 2027 hingga 2030, yang dapat semakin memperburuk risiko kabut asap.Institut Hubungan Internasional Singapura menyebut, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah mengisyaratkan keberlanjutan dalam mempertahankan kebijakan pengelolaan hutan yang ditetapkan di bawah pemerintahan sebelumnya, yang berhasil mengatasi penyebab kebakaran dan kabut asap pasca 2015.Namun, sektor pertanian Indonesia menghadapi tiga tantangan sekaligus, yakni memenuhi kebutuhan pangan, bahan bakar, dan ekspor. Berbagai LSM telah menyatakan kekhawatiran bahwa inisiatif-inisiatif seperti peningkatan penggunaan biofuel di Indonesia dan pengembangan kawasan pangan dan energi di Papua dapat secara tidak sengaja menyebabkan deforestasi dan degradasi lahan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Indonesia butuh 306 triliun rupiah untuk pembangunan rendah karbon
Indonesia
•
30 Aug 2021

Taiwan akan cabut larangan masuk bagi pekerja migran Indonesia
Indonesia
•
08 Feb 2022

Indonesia soroti industri global pulihkan pandemik pada pertemuan PBB
Indonesia
•
23 Nov 2020

Persamaan nilai RI-AS muluskan perpanjangan ‘Generalized System of Preferences’
Indonesia
•
03 Nov 2020
Berita Terbaru

Feature - Napas budaya Mahasiswa Indonesia di Singapura
Indonesia
•
27 Jan 2026

Kajian ilmiah – Dr. Syafiq Riza Basalamah bedah urgensi akhlak dan kekuatan doa di CONNECT 2026
Indonesia
•
26 Jan 2026

Tantangan zaman makin kompleks, CONNECT 2026 hadirkan 'event' dakwah perspektif global
Indonesia
•
24 Jan 2026

Presiden Prabowo tandatangani piagam Dewan Perdamaian bentukan Trump
Indonesia
•
24 Jan 2026
