Feature – Pengungsi di Mesir harapkan perdamaian pada Hari Pengungsi Sedunia

Anak-anak pengungsi terlihat saat pertandingan sepak bola di sebuah akademi olahraga di Kairo, Mesir, pada 18 Juni 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Hari Pengungsi Sedunia diperingati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 Juni setiap tahunnya "untuk menghormati para pengungsi di seluruh dunia." Kampanye tahun ini berfokus pada solidaritas terhadap para pengungsi.
Kairo, Mesir (Xinhua) – Sekelompok pengungsi dan ekspatriat Afrika dari Sudan, Sudan Selatan, dan negara-negara lain berkumpul di sebuah akademi olahraga di Kairo untuk menyaksikan pertandingan sepak bola yang penuh semangat. Mereka disemangati oleh kerumunan penonton yang suportif, menemukan penghiburan dan keamanan di Mesir setelah melarikan diri dari konflik di tanah air mereka.Di tengah kehangatan dan keramahan yang diberikan oleh warga Mesir, mereka tetap mendambakan perdamaian dan kesempatan untuk pulang ke rumah, sebuah sentimen yang dirasakan bersama pada Hari Pengungsi Sedunia, yang diperingati setiap tahun pada 20 Juni.Kamal Mahmoud, seorang warga Sudan yang tinggal di Kairo sekaligus seorang pelatih di akademi tersebut, mendapati dirinya terdampar di Mesir saat konflik di Sudan pecah pada April lalu.Sebelum konflik, Mahmoud bersama keluarganya sering berkunjung ke Mesir, negara tetangga Sudan, tetapi mereka tidak pernah membayangkan harus menetap untuk waktu yang lama.Keluarga Mahmoud kini bergantung pada pendapatannya sebagai pelatih, bayaran bimbingan belajar yang diterima oleh istrinya, dan bantuan tidak menentu dari teman-temannya di luar negeri."Saya berharap perdamaian akan terwujud di seluruh dunia, tidak hanya di Sudan, tetapi juga di Palestina dan di tempat-tempat lain," ungkap Mahmoud.
Kamal Mahmoud (tengah), seorang warga Sudan yang bekerja sebagai pelatih sepak bola, duduk bersama anak-anak pengungsi saat pertandingan sepak bola di sebuah akademi olahraga di Kairo, Mesir, pada 18 Juni 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Ahmed Khamis Hasaballah, seorang jurnalis foto yang melarikan diri dari Gaza, memotret di Kairo, Mesir, pada 18 Juni 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Gangguan mental Gen Z pasca-COVID di AS naik jadi 42 persen
Indonesia
•
09 Nov 2022

Perang di Gaza jadi preseden berbahaya bagi keselamatan pekerja bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
21 Aug 2024

Bantuan kemanusiaan tertahan di perlintasan Rafah saat krisis Gaza kian memburuk
Indonesia
•
09 Aug 2024

COVID-19 – Liga Dunia Muslim apresiasi Sri Lanka tidak kremasi jenazah Muslim
Indonesia
•
04 Mar 2021
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
