
Perusahaan China luncurkan LLM berbasis AI untuk manajemen satelit

Dong Weihua, CTO CasTianta Tech Co., Ltd., memperkenalkan Huashan, model bahasa besar (large language model/LLM) khusus untuk sektor antariksa, dalam Konferensi Aplikasi Satelit China (China Satellite Application Conference) yang digelar oleh Institut Komunikasi China di Beijing, ibu kota China, pada 25 Oktober 2024. (Xinhua/CasTianta Tech Co., Ltd.)
Huashan memanfaatkan AI untuk membantu para pengguna dengan sejumlah fitur, di antaranya kontrol wahana antariksa cerdas, perhitungan dan analisis orbit, serta pembuatan kode perintah. Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran operasional satelit di orbit.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah perusahaan teknologi China menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan manajemen wahana antariksa dengan mengembangkan model bahasa besar (large language model/LLM) khusus untuk sektor antariksa.CasTianta Tech Co., Ltd., sebuah perusahaan yang bergerak dalam penelitian dan industrialisasi untuk produk-produk yang berkaitan dengan manajemen satelit komersial, meluncurkan LLM yang diberi nama Huashan tersebut pada Jumat (25/10) dalam Konferensi Aplikasi Satelit China (China Satellite Application Conference), yang digelar oleh Institut Komunikasi China di Beijing.Memaparkan fungsionalitas LLM tersebut, CTO perusahaan itu, Dong Weihua, menjelaskan bahwa Huashan memanfaatkan AI untuk membantu para pengguna dengan sejumlah fitur, di antaranya kontrol wahana antariksa cerdas, perhitungan dan analisis orbit, serta pembuatan kode perintah. Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran operasional satelit di orbit.Dikembangkan berdasarkan keahlian manajemen satelit, LLM tersebut menyediakan platform untuk manajemen wahana antariksa, pelatihan personel, dan kontrol satelit cerdas melalui interaksi suara dan teks, menurut Dong.Manajemen satelit yang efektif merupakan mata rantai krusial dalam memastikan pemanfaatan sumber daya satelit secara rasional, layanan satelit yang stabil dan andal, serta mendukung pengembangan teknologi satelit lebih lanjut, kata Dong.Dong menjelaskan bahwa setelah sebuah satelit diluncurkan, satelit itu akan mengirimkan sejumlah besar data kembali ke bumi. Namun, seorang insinyur hanya dapat mengelola beberapa satelit saja. Sementara itu, jumlah satelit di orbit terus bertambah dengan cepat. Tenaga kerja yang ada saat ini tidak akan mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat ini.Menurut statistik dari CCID Consulting, industri satelit global telah berkembang pesat sejak 2020, dengan tingkat pertumbuhan peluncuran satelit tahunan rata-rata mencapai 32 persen dari 2020 hingga 2023."Ketika metode kerja konvensional tidak dapat memenuhi tuntutan, pemanfaatan AI secara efektif menjadi penting guna mengatasi besarnya perubahan dalam manajemen satelit. Inilah visi di balik pengembangan Huashan," tutur Dong.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti China temukan elektrode saraf baru untuk pengobatan strok
Indonesia
•
06 Dec 2023

Studi ungkap peran mikroba yang bermanfaat dalam tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
05 May 2025

China dan Thailand akan bekerja sama dalam misi eksplorasi Bulan
Indonesia
•
06 Apr 2024

Roket Long March generasi baru China akan fasilitasi misi berawak ke Bulan dan Mars
Indonesia
•
09 Dec 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
