
IEA sudah lepas 290 juta barel minyak, tetapi risiko pasokan global masih tinggi

Foto yang diabadikan pada 30 Juni 2026 ini memperlihatkan pemandangan cakrawala di Distrik Teluk Barat, Doha, Qatar. (Xinhua/Nikku)
Paris, Prancis (Xinhua/Indonesia Window) – Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) Fatih Birol pada Selasa (21/7) mengatakan bahwa meski pasar minyak global mendapat manfaat dari sejumlah faktor penyangga, perkembangan terkini di Timur Tengah telah meningkatkan kekhawatiran terkait keamanan pasokan energi dan menambah ketidakpastian terhadap prospek pasar.
Dalam sebuah pernyataan, Birol menguraikan sejumlah faktor yang mampu meredam tekanan di pasar minyak global.
Produsen-produsen di kawasan Teluk telah mempertahankan pasokan dalam jumlah besar, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan upaya signifikan untuk menjaga aliran minyak ke pasar global melalui jalur alternatif di luar Selat Hormuz.
Menurut perkiraan IEA, ekspor minyak dari kawasan Teluk, meski berada di bawah puncaknya pada akhir Juni, tetap jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat ekspor yang tercatat antara awal Maret hingga pertengahan Juni.
Sementara itu, peningkatan ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS), Brasil, Venezuela, dan Kazakhstan turut mengimbangi sebagian kekurangan pasokan dari kawasan Teluk.
Pelepasan cadangan minyak strategis secara berkelanjutan oleh negara-negara anggota IEA juga telah membantu meredakan tekanan di pasar.
Sejak 11 Maret, negara-negara anggota telah melepas sekitar 290 juta barel minyak ke pasar. Mereka masih memiliki cadangan darurat dalam jumlah besar, termasuk lebih dari 1 miliar barel yang berada di bawah kendali pemerintah.
Sementara itu, IEA memperingatkan bahwa risiko terhadap keamanan pasokan minyak tidak boleh diremehkan di tengah meningkatnya ketegangan dan menurunnya persediaan komersial.
Aktivitas penyulingan dan pasokan produk olahan pulih lebih lambat dibandingkan pasokan minyak mentah, sehingga pasar produk olahan, termasuk solar dan bensin, menjadi jauh lebih ketat dibandingkan pasar minyak mentah.
Di pasar gas alam, peningkatan pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari AS, Kanada, dan produsen lainnya telah mengimbangi sekitar 70 persen kekurangan pasokan yang melalui Selat Hormuz.
Namun, penundaan lebih lanjut dalam pemulihan ekspor dari kawasan Teluk dapat memperpanjang ketatnya kondisi pasar dan berdampak pada semua negara pengimpor LNG, termasuk Eropa, yang tengah mengisi kembali cadangan gas untuk menghadapi musim dingin mendatang.
IEA menyerukan penyelesaian konflik yang sedang berlangsung, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara "penuh dan tanpa syarat", guna mencegah memburuknya keamanan energi global lebih lanjut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

ACFIC akan terus topang kepercayaan bisnis swasta China
Indonesia
•
06 Mar 2023

Cadangan devisa Indonesia naik jadi 137,1 miliar dolar AS pada Juni
Indonesia
•
08 Jul 2021

Bank Dunia kucurkan 1 miliar dolar AS lebih untuk Asia Selatan
Indonesia
•
30 Jun 2022

Fokus Berita – Pembangunan Jalur Sutra Digital hadirkan konektivitas dan kemakmuran
Indonesia
•
18 Apr 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
