ILO: Pertumbuhan lapangan kerja global turun pada 2023 karena krisis ekonomi

Seorang pria memasuki sebuah restoran yang memasang informasi lowongan kerja pada pintu masuknya di Washington DC, Amerika Serikat, pada 5 Agustus 2022. (Xinhua/Ting Shen)
Pertumbuhan lapangan kerja global diperkirakan akan melambat tajam menjadi 1 persen tahun ini dibandingkan dengan 2 persen pada 2022, terpukul oleh dampak ekonomi dari perang di Ukraina, inflasi tinggi dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Jakarta (Indonesia Window) – Pertumbuhan lapangan kerja global diperkirakan akan melambat tajam menjadi 1 persen tahun ini dibandingkan dengan 2 persen pada 2022, karena terpukul oleh dampak ekonomi dari perang di Ukraina, inflasi tinggi dan kebijakan moneter yang lebih ketat, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (The International Labour Organization/ILO) pada Senin (16/1).Pada saat yang sama, jumlah pengangguran di dunia diperkirakan akan meningkat sebesar 3 juta menjadi 208 juta pada tahun 2023, sementara inflasi akan menggerogoti upah riil, kata ILO dalam sebuah laporan tentang tren global.Kelangkaan pekerjaan baru akan melanda dunia pada saat banyak negara masih belum pulih dari guncangan ekonomi akibat pandemik global, sementara virus corona kembali menyerang China setelah Beijing mencabut pembatasan penguncian yang ketat.“Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja global berarti kami tidak memperkirakan kerugian yang terjadi selama krisis COVID-19 akan pulih sebelum tahun 2025,” kata Richard Samans, Direktur Departemen Riset ILO dan koordinator laporan yang baru diterbitkan itu.Kemajuan dalam mengurangi jumlah pekerjaan informal di dunia juga kemungkinan akan berbalik arah di tahun-tahun mendatang, kata ILO.Perkiraan pekerjaan global lebih rendah dari perkiraan ILO sebelumnya yaitu pertumbuhan 1,5 persen untuk tahun 2023.“Perlambatan saat ini berarti banyak pekerja harus menerima pekerjaan dengan kualitas lebih rendah, seringkali dengan upah yang sangat rendah, terkadang dengan jam kerja yang tidak mencukupi,” kata ILO. “Selain itu, karena harga naik lebih cepat daripada pendapatan nominal tenaga kerja, krisis biaya hidup berisiko mendorong lebih banyak orang ke dalam kemiskinan.”Situasi dapat semakin memburuk jika ekonomi global melambat, tambah ILO.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

OPEC pertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk 2025 dan 2026
Indonesia
•
14 Feb 2025

Sektor penyimpanan gudang China pulih pada Desember 2022
Indonesia
•
08 Jan 2023

Ratusan produsen peralatan rumah tangga China ramaikan pameran di Jakarta
Indonesia
•
15 Mar 2024

Produsen pupuk Indonesia tawarkan pendirian pabrik di Indiana, AS
Indonesia
•
28 Aug 2020
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
