
Indonesia-China bentuk aliansi pengembangan talenta digitalisasi industri

Foto dokumentasi ini menunjukkan Sutakim, seorang pemuda Indonesia, sedang mengikuti sebuah sesi pembelajaran kesenian China di Liuzhou City Vocational College di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. (Xinhua)
Pembentukan aliansi pengembangan digitalisasi Indonesia-China bertujuan untuk memperdalam integrasi antara sektor industri dan pendidikan, meningkatkan pertukaran serta kerja sama global, dan mencetak talenta untuk industri masa depan.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China belum lama ini memulai kerja sama baru dalam pengembangan talenta digitalisasi industri dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui pembentukan aliansi yang terdiri atas sektor industri, pendidikan, dan pemerintah lintas kedua negara. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor manufaktur nasional menuju era yang disebut sebagai ‘Industri 4.0’.
Pembentukan aliansi ini berlangsung dalam Konferensi Digitalisasi Industri dan Inovasi AI untuk Institusi Pendidikan Tinggi serta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pengembangan Integrasi Industri-Pendidikan di China pada akhir pekan lalu. Inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah lebih dulu ditandatangani antara Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (RI) dan Irootech Technology Co. Ltd., perusahaan asal China yang berfokus dalam pengembangan manufaktur cerdas.
"Saat ini anggota aliansi telah mencakup institusi pendidikan dan sektor industri di Indonesia dan China. Tentunya kami berharap ke depan akan semakin banyak institusi pendidikan dan pelaku industri yang terlibat aktif dalam mengembangkan aktivitas aliansi," kata Kepala PPPVI Wulan Aprilianti dalam pernyataan resminya pada Selasa (14/4).
Wulan menjelaskan tujuan utama pembentukan aliansi ini adalah membangun platform kolaborasi internasional di bidang digitalisasi dan kecerdasan industri, memperdalam integrasi antara sektor industri dan pendidikan, meningkatkan pertukaran serta kerja sama global, dan mencetak talenta untuk industri masa depan.
Selain menghadiri forum tersebut, rombongan Kementerian Perindustrian RI juga mengunjungi sejumlah institusi pendidikan vokasi serta perusahaan dan asosiasi industri di China, di antaranya Sany Group, Wuhan Vocational College of Software and Engineering, Guangzhou Polytechnic, dan Machinery Industry Education Development Center (MIEDC).
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia dan China semakin intensif memperkuat kerja sama di bidang pendidikan vokasi. Pada awal tahun ini, Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) telah menandatangani nota kerja sama dengan Guangdong Education Association for International Exchange (GEAIE).
Melalui kolaborasi ini, kedua pihak akan melaksanakan program kerja sama yang diberi nama "1+10+100+1.000 = 10.000". Skema ini mencakup pembentukan satu pusat kerja sama dan mekanisme aliansi yang berfokus pada 10 sektor utama industri. Mereka juga akan mendorong penyelenggaraan lebih dari 100 kegiatan pertukaran dan pembelajaran guna meningkatkan mobilitas dua arah sebanyak 1.000 mahasiswa di kedua negara, serta pelatihan bagi 10.000 talenta lokal Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Hambatan perdagangan picu penurunan pendapatan ekspor komoditas Australia
Indonesia
•
01 Jul 2025

Usia 16 defisit 59 juta rupiah, usia 45 surplus 25 juta rupiah: Begini siklus keuangan warga Korsel
Indonesia
•
19 Sep 2026

Pemerintah beri pengampunan bagi utang petani, usaha kecil
Indonesia
•
17 Oct 2025

Utang nasional AS lampaui 35 triliun dolar AS untuk pertama kalinya
Indonesia
•
30 Jul 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
