
Tim peneliti China ungkap cara cegah ‘pembunuh tak kasat mata’ di kalangan lansia pedesaan

Relawan komunitas Yu Qiao (kiri) berbicara dengan seorang warga lanjut usia (lansia) di Desa Maoqi, Kota Ezhou, Provinsi Hubei, China tengah, pada 18 Juli 2022. (Xinhua)
Insiden jatuh menjadi salah satu penyebab utama cedera dan kematian akibat kecelakaan pada lansia selama tiga dekade terakhir.
Harbin, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi oleh Universitas Kedokteran Harbin di China menemukan bahwa menggabungkan latihan fisik sederhana dan pendidikan kesehatan yang disesuaikan ke dalam layanan kesehatan masyarakat dasar di negara tersebut dapat secara signifikan mengurangi risiko insiden jatuh di kalangan warga lanjut usia (lansia) di pedesaan, mengatasi "pembunuh tak kasat mata" yang memengaruhi populasi lansia.Studi itu dipublikasikan secara daring (online) pekan ini dalam Journal of the American Medical Association. Temuan tersebut mendukung penggunaan pendekatan terintegrasi perawatan kesehatan primer untuk mencegah insiden jatuh di kalangan lansia di pedesaan China serta negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya.Meski kerap diabaikan, insiden jatuh menjadi salah satu penyebab utama cedera dan kematian akibat kecelakaan pada lansia selama tiga dekade terakhir, kata Tian Maoyi, wakil dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat universitas tersebut dan salah satu peneliti utama studi itu, seraya menyebutkan bahwa China kini memiliki populasi berusia 60 tahun ke atas yang cukup besar.Guna mengatasi masalah ini, tim peneliti mengembangkan proyek intervensi komprehensif yang dipimpin oleh dokter desa. Program ini mencakup latihan sederhana untuk memperkuat otot tungkai bawah dan meningkatkan keseimbangan, serta video edukasi kesehatan yang disampaikan dalam dialek lokal.Bekerja sama dengan pusat pengendalian dan pencegahan penyakit serta perguruan tinggi kedokteran di berbagai provinsi, tim itu melakukan uji coba terkontrol secara acak yang melibatkan 2.610 peserta berusia 60 tahun ke atas yang berisiko tinggi jatuh.Wang Yongchen, kepala kedokteran umum di Rumah Sakit Afiliasi Kedua Universitas Kedokteran Harbin, yang juga merupakan bagian dari penelitian tersebut, mengatakan bahwa proyek intervensi ini menunjukkan efektivitas yang nyata selama periode tindak lanjut rata-rata 358 hari.Dia menambahkan bahwa hanya 29,7 persen peserta dalam kelompok intervensi yang melaporkan mengalami setidaknya satu kali jatuh, jauh lebih rendah daripada 38,3 persen pada kelompok kontrol. Frekuensi insiden jatuh juga menurun dari 1,4 kali jatuh per orang per tahun pada kelompok kontrol menjadi 0,8 kali pada kelompok intervensi, sementara tingkat cedera turun dari 21,6 menjadi 15,2 persen.Para partisipan lansia yang menerima intervensi juga mengalami peningkatan signifikan dalam mobilitas fungsional dan kualitas hidup terkait kesehatan, ujar Wang.Dia menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan sebuah pendekatan yang memanfaatkan jaringan layanan kesehatan primer yang ada di China tanpa bergantung pada peralatan medis canggih atau dokter rehabilitasi spesialis. Metode ini dapat memberikan solusi layanan kesehatan praktis bagi populasi lansia di negara dan kawasan dengan keterbatasan sumber daya."Bagi ratusan juta warga lansia di pedesaan, lebih sedikit frekuensi jatuh berarti lebih sedikit penderitaan yang dialami dan lebih besar peluang untuk hidup secara mandiri dan menikmati hidup," imbuh Wang.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Burj Khalifa gedung tertinggi di dunia
Indonesia
•
13 Feb 2021

Harapan hidup di Taiwan capai puncak baru
Indonesia
•
06 Aug 2021

PBB desak Taliban pertimbangkan kembali implementasi pembatasan akses perempuan terhadap pelatihan medis
Indonesia
•
08 Dec 2024

Kenya lakukan translokasi terhadap 21 badak hitam untuk tingkatkan populasi
Indonesia
•
14 Jan 2024


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
