
Iran belum keluar dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir, tapi sikap AS bisa dorong Teheran mundur

Foto yang diabadikan pada 1 Mei 2026 ini memperlihatkan pemandangan Teheran, Iran. (Xinhua)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang pejabat keamanan senior Iran mengatakan bahwa Iran belum memutuskan apakah akan keluar dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT), seraya menambahkan bahwa keputusan apa pun mengenai masalah tersebut akan bergantung pada sikap Washington.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, stasiun televisi Qatar, yang dipublikasikan pada Sabtu (19/9), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan bahwa negaranya masih berkomitmen pada fatwa keagamaan yang dikeluarkan oleh mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, yang melarang pengembangan senjata atom.
"Namun, kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," ujarnya, sambil menekankan bahwa merupakan kepentingan Washington untuk menerima syarat-syarat Iran guna mengakhiri perang, yang mencakup penghentian permusuhan di semua front, pencairan aset Iran yang dibekukan, dan pencabutan blokade maritim anti-Iran.
Dia menambahkan bahwa konsultasi dengan para mediator dari Qatar dan Pakistan terus berlanjut, dan Iran telah menyampaikan syarat-syaratnya untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) kepada mereka.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut, sekaligus memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut.
Berdasarkan MoU tersebut, kedua belah pihak dijadwalkan melakukan perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan final. Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul serangkaian eskalasi antara kedua negara baru-baru ini.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Telaah – Peluang perdamaian masih jauh bagi Gaza meskipun perundingan gencatan senjata berlanjut
Indonesia
•
30 Oct 2024

AS sebut Houthi organisasi teroris
Indonesia
•
13 Jan 2021

Studi: Bank-bank Asia ‘gagal’ dalam upaya dekarbonisasi
Indonesia
•
23 Mar 2022

Visa turis dan komersial bisa untuk tunaikan umroh
Indonesia
•
12 Aug 2022


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
