
Iran sebut kapal perang Eropa yang lintasi Selat Hormuz dianggap sebagai sasaran yang sah

Orang-orang berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 1 Maret 2026. (Xinhua/Kantor Berita Mehr)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang diplomat senior Iran pada Selasa (28/7) mengatakan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Selat Hormuz kembali ke statusnya sebelum perang, dan memperingatkan bahwa kapal perang Eropa mana pun yang berusaha mendekati jalur perairan strategis tersebut akan dianggap sebagai "sasaran yang sah."
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional Kazem Gharibabadi mengatakan kepada stasiun televisi milik negara Iran, IRIB TV, bahwa jika situasi di selat tersebut kembali seperti sebelum perang, "kesuksesan kami dalam perang tidak akan lengkap."
Gharibabadi menambahkan bahwa untuk menegakkan kedaulatan Iran atas selat tersebut, Iran tidak takut jika perang kembali berkobar.
Menggambarkan Selat Hormuz sebagai "kapasitas pertahanan baru" yang kini menjadi bagian dari keamanan nasional Iran, Gharibabadi mengatakan bahwa pengaturan pengelolaan masa depan oleh Teheran akan memiliki dampak jangka panjang terhadap keamanan negara.
Gharibabadi juga mengungkapkan bahwa Oman berusaha melibatkan negara ketiga untuk operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz bagian selatan, namun Iran menolaknya.
Soal hubungan dengan Amerika Serikat (AS), pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran tidak mengajukan permintaan negosiasi dengan AS dalam 15 hari terakhir.
"Pihak Amerika meminta kami untuk mengadakan pembicaraan, dan mengirimkan pesan melalui Oman bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan militer terhadap kami," kata Gharibabadi.
Terkait diskusi bilateral dengan Oman, Gharibabadi menyampaikan bahwa Teheran hanya bernegosiasi dengan Muscat mengenai isu-isu yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Dia mengatakan bahwa Oman telah mengusulkan sebuah rute bersama dengan pembagian kendali 50-50. Namun, Iran menyatakan usulan tersebut tidak dapat menghilangkan kekhawatirannya, dengan alasan bahwa jika membiarkan rute selatan tetap terbuka, kedaulatan Iran atas selat tersebut akan rusak.
Sebagai gantinya, Teheran mengusulkan agar Iran memegang kendali penuh atas rute masuk Selat Hormuz dan kendali parsial atas rute keluarnya, tambah Gharibabadi. Dia mengatakan bahwa jika Oman menerima tawaran tersebut, "kita akan melangkah ke tahap berikutnya," namun jika tidak, selat itu akan tetap ditutup dan "kami siap menghadapi berlanjutnya perang."
Iran memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz pada 28 Februari dengan melarang perlintasan aman bagi kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut ke wilayah Iran.
Pembatasan navigasi di Selat Hormuz mengakibatkan lonjakan harga energi global dan memicu eskalasi yang berujung pada gelombang serangan udara AS terhadap Iran.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Taiwan larang siswa internasional masuk selama 15 Desember-11 Februari
Indonesia
•
08 Nov 2021

Haji1441 - 70 persen jamaah haji tahun ini warga asing
Indonesia
•
07 Jul 2020

Fakta dan Statistik: Tahun Pertama Konflik Rusia-Ukraina
Indonesia
•
24 Feb 2023

Boikot Saudi rugikan Turki 20 miliar dolar AS
Indonesia
•
21 Oct 2020


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
