
Iran teken perjanjian proyek gas, LNG senilai 40 miliar dolar AS dengan Rusia

Presiden Iran Ebrahim Raisi (kanan) bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Teheran, Iran, pada 19 Juli 2022. (Xinhua/Situs Web Kepresidenan Iran)
Pengembangan proyek gas dan LNG antara Iran dan Rusia telah diteken, dan akan mencakup pembangunan sejumlah komplek gas alam cair (liquified natural gas/LNG) di Iran serta pengembangan ladang gas dan jalur transmisi ekspor gas Iran.
Teheran, Iran (Xinhua) – Menteri Perminyakan Iran Javad Owji pada Rabu (9/11) mengatakan bahwa kementeriannya telah meneken perjanjian kerja sama senilai hampir 40 miliar dolar AS dengan raksasa energi Rusia Gazprom.Pihak Iran akan menindaklanjuti progres perjanjian itu, yang mencakup pembangunan sejumlah komplek gas alam cair (liquified natural gas/LNG) di Iran serta pengembangan ladang gas dan jalur transmisi ekspor gas Iran, lapor kantor berita resmi Iran IRNA, mengutip pernyataan Owji.Iran telah memulai pertukaran produk minyak dan minyak bumi dengan Rusia dan sedang membahas kemungkinan pertukaran gas dengan Rusia, ujar Owji, seraya menambahkan dirinya berharap kesepakatan semacam ini dapat diwujudkan pada musim dingin tahun ini.Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Diplomasi Ekonomi Mehdi Safari pada Oktober menyampaikan bahwa rencana Iran adalah mengimpor gas Rusia sembari mengekspor gas Iran ke pasar luar negeri. Dia juga mengatakan langkah ini akan menguntungkan negaranya dengan memangkas biaya transfer gas Iran dari wilayah selatan negara tersebut ke utara.Pusat gas alam
Pada 19 Oktober lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa dirinya dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menjadikan Turki sebagai pusat gas alam.“Turki akan menjadi pusat untuk gas alam. Dalam diskusi terakhir kami, kami sepakat dengan Putin tentang masalah ini. Kami akan membangun pusat di sini dengan gas Turki yang berasal dari Rusia.”Menyusul konflik antara Rusia dan Ukraina, banyak negara maju kemungkinan akan menghadapi masalah pasokan pangan dan energi, namun Turki berada dalam posisi yang lebih baik, tutur Erdogan.“Kami berupaya untuk mengatasi krisis dengan kerugian seminimal mungkin, dan bahkan mengubah krisis menjadi peluang besar bagi negara dan bangsa kami,” katanya.Putin mengusulkan untuk menjadikan Turki sebagai pusat gas alam dalam pertemuan dengan Erdogan di Astana beberapa waktu lalu. Usulan itu muncul saat pipa Nord Stream yang mengalirkan gas Rusia ke Eropa mengalami kebocoran dalam serangkaian ledakan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (19/10/2022) mengumumkan bahwa dirinya dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menjadikan Turki sebagai pusat gas alam. (Xinhua/tangkapan layar)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kereta cepat pertama China berkecepatan 350 km per jam catat 340 juta perjalanan penumpang dalam 15 tahun
Indonesia
•
02 Aug 2023

NYT: Dolar yang kuat baik bagi AS, buruk bagi dunia
Indonesia
•
30 Sep 2022

Hisense telah produksi 600.000 unit TV di pabrik lokal Indonesia
Indonesia
•
10 Nov 2024

Industri petrokimia China bukukan kenaikan pendapatan pada 2022
Indonesia
•
19 Feb 2023


Berita Terbaru

China targetkan 100.000 kendaraan berbasis sel bahan bakar per 2030
Indonesia
•
17 Mar 2026

Negara-Negara anggota Badan Energi Internasional di Kawasan Asia-Oseania akan "segera" lepas cadangan minyak darurat
Indonesia
•
17 Mar 2026

Jepang mulai lepas cadangan minyak di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
17 Mar 2026

Menteri Energi Inggris sebut penutupan Selat Hormuz rugikan ekonomi global
Indonesia
•
17 Mar 2026
