
Iran ultimatum AS dan Israel: Selat Hormuz tak akan dibuka jika perang di Lebanon tak dihentikan

Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz apabila perang di Lebanon tidak diakhiri, demikian dilansir kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, pada Ahad (21/6), mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiator Iran.
Sumber tersebut memperingatkan bahwa jika "kejahatan" Israel di Lebanon terus berlanjut dan integritas wilayah Lebanon tidak dijamin, Iran tidak akan melakukan perundingan mengenai isu-isu lainnya.
Sumber tersebut menambahkan bahwa syarat-syarat yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz juga mencakup pembebasan sebagian aset negara yang dibekukan sebagai langkah awal berdasarkan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian yang baru-baru ini ditandatangani dengan Amerika Serikat (AS) dan perjanjian terkait dengan Qatar, serta pelaksanaan ketentuan-ketentuan MoU, yang mensyaratkan penghentian perang di semua front termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta penerbitan pengecualian oleh AS untuk ekspor minyak, petrokimia, dan produk minyak bumi Iran.
Menurut sumber tersebut, pencabutan blokade laut saja tidak cukup untuk membuka kembali selat itu.
Pernyataan tersebut muncul ketika tim negosiator Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, dan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Bagheri Kani, saat ini berada di Swiss untuk melakukan pembicaraan dengan delegasi AS.
Dalam unggahan di platform media sosial X pada Ahad, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan negaranya bertekad untuk memastikan AS melaksanakan komitmennya berdasarkan MoU dalam pertemuan di Swiss.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menandatangani MoU perdamaian pada Kamis (18/6) pagi, dan finalisasinya diumumkan pekan lalu oleh Teheran, Washington, dan Islamabad.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di Timur Tengah, dan memperketat kontrolnya atas Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS untuk melintasi selat tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi buka semua penerbangan internasional mulai 31 Maret
Indonesia
•
09 Jan 2021

Iran sebut peluang untuk hidupkan perjanjian nuklir tak selamanya terbuka
Indonesia
•
29 Dec 2022

Presiden China Xi gelar pertemuan dengan PM Lebanon, bahas hubungan bilateral
Indonesia
•
10 Dec 2022

Taiwan lindungi demokrasi dengan “Anti-infiltration Act”
Indonesia
•
24 Jan 2020


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
