
Pemanasan iklim sebabkan penurunan kadar oksigen di danau-danau seluruh dunia

Sejumlah balon udara panas terbang di atas Danau Burley Griffin dalam acara Canberra Balloon Spectacular tahunan di Canberra, Australia, pada 18 Maret 2025. (Xinhua/Chu Chen)
Kadar oksigen menurun di danau-danau di seluruh dunia akibat pemanasan iklim berkepanjangan dan meningkatnya gelombang panas.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru yang diterbitkan pada Sabtu (22/3) menemukan bahwa kadar oksigen menurun di danau-danau di seluruh dunia akibat pemanasan iklim berkepanjangan dan meningkatnya gelombang panas.Para peneliti menemukan tren penurunan tersebut setelah menganalisis data tingkat oksigen terlarut, jumlah oksigen dalam air, di lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.Diterbitkan dalam jurnal Science Advances, penelitian tersebut menemukan bahwa 83 persen danau di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen di permukaannya, dan tingkat rata-rata hilangnya oksigen di danau lebih tinggi daripada di lautan dan sungai, yang menyoroti betapa seriusnya masalah ini.Penulis studi tersebut menilai pemanasan iklim merupakan penyebab utama dari penurunan tingkat oksigen ini, yang berkontribusi terhadap 55 persen penurunan oksigen dengan mengurangi kelarutan oksigen.Selain itu, meningkatnya konsentrasi nutrisi di danau, yang dikenal sebagai eutrofikasi, menyebabkan sekitar 10 persen dari total penurunan kadar oksigen.Studi tersebut juga menganalisis dampak gelombang panas terhadap penurunan oksigen di permukaan danau. Studi menunjukkan bahwa gelombang panas memberikan dampak yang cepat dan nyata pada penurunan oksigen, yang mengakibatkan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan kondisi pada suhu rata-rata.Para penulis mengatakan temuan ini menggarisbawahi dampak mendalam perubahan iklim pada ekosistem air tawar, yang membutuhkan kadar oksigen cukup untuk menopang kehidupan aerobik dan menjaga komunitas biologis tetap sehat."Menurunnya oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme akuatik, dan runtuhnya industri perikanan komersial," kata rekan penulis Zhang Yunlin, seorang peneliti di Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.Hilangnya oksigen terlarut di danau telah dilaporkan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa penurunan terjadi secara luas di permukaan dan perairan dalam danau beriklim sedang. Namun, penulis studi baru tersebut meyakini bahwa temuan mereka memberikan pandangan yang lebih komprehensif, karena danau yang diteliti adalah danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi. Sebaliknya, danau yang diteliti dalam studi sebelumnya tidak termasuk danau dari zona iklim tropis dan dingin.
Seorang gadis memberi makan unggas air di Danau Tjornin di Reykjavik, Islandia, pada 15 Maret 2025. (Xinhua/Zhang Fan)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China rencanakan luncurkan lebih dari 140 pesawat luar angkasa pada 2022
Indonesia
•
10 Feb 2022

Ilmuwan China temukan bukti eksperimental pertama dari partikel mirip graviton
Indonesia
•
01 Apr 2024

Feature – Paus sperma berkomunikasi seperti kode morse, ilmuwan temukan 'bahasa' uniknya
Indonesia
•
24 Jul 2026

China fasilitasi inovasi teknologi ramah lingkungan dengan rencana implementasi
Indonesia
•
29 Dec 2022


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
