
Kajian geologi krusial jadi landasan persiapan tapak PLTN Indonesia

Ilustrasi. (Lukáš Lehotský on Unsplash)
Kajian geologi menjadi fondasi utama dalam menentukan kelayakan tapak pembangunan PLTN, mengingat fasilitas pembangkit ini dirancang beroperasi hingga puluhan tahun dan menuntut standar keselamatan yang sangat tinggi.
Jakarta (Indonesia Window) – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, upaya Indonesia menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memasuki tahap penting.
Kajian geologi kini menjadi fondasi utama dalam menentukan kelayakan tapak pembangunan PLTN, mengingat fasilitas pembangkit ini dirancang beroperasi hingga puluhan tahun dan menuntut standar keselamatan yang sangat tinggi.
Untuk memperkuat kajian tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar diskusi teknis di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (4/5). Pertemuan ini bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memperdalam evaluasi geologi terhadap sejumlah kandidat tapak PLTN di Indonesia.
Diskusi teknis tersebut turut melibatkan sejumlah unsur pimpinan dan peneliti lintas satuan kerja di lingkungan BRIN, di antaranya Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, serta Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir. Keterlibatan lintas disiplin tersebut mencerminkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam proses evaluasi tapak PLTN di Indonesia.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan seluruh proses evaluasi dilakukan secara objektif, profesional, dan berbasis data lapangan. Menurutnya, setiap analisis harus mengacu pada fakta ilmiah sebagai bagian dari evaluasi awal kondisi tapak dari sisi geologi.
“Analisis yang dilakukan harus berlandaskan fakta lapangan dan pendekatan ilmiah, sebagai bagian dari evaluasi awal kondisi tapak dari aspek geologi,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, tim Badan Geologi memaparkan pengalaman survei lapangan yang pernah dilakukan dalam dua tahap. Kajian mencakup berbagai parameter penting, mulai dari kondisi tanah dan batuan, potensi gempa bumi, aktivitas gunung api, likuifaksi, tsunami, hingga potensi gerakan tanah.
Kajian yang dilakukan juga menyoroti berbagai aspek kebumian penting, seperti potensi gempa bumi, tsunami, hingga dinamika pesisir berupa abrasi dan akresi. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi teknis terkait kelayakan suatu wilayah untuk pengembangan PLTN.
Rekomendasi itu dinilai memiliki dampak jangka panjang, mengingat PLTN dirancang untuk beroperasi dalam rentang waktu sangat panjang, bahkan hingga 80 tahun. Oleh sebab itu, seluruh tahapan kajian dilakukan secara cermat, sistematis, dan mengedepankan prinsip keselamatan.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menilai sinkronisasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam tahap awal evaluasi tapak. Dia menjelaskan sebagian besar evaluasi saat ini masih berada pada tahap awal atau desk evaluation sehingga diperlukan penyamaan persepsi sebelum memasuki tahapan kajian lanjutan.
“Karena itu, penting bagi kita untuk menyamakan persepsi. Kajian yang lebih mendalam akan dilanjutkan pada tahap berikutnya sesuai standar yang berlaku,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Maman Kartaman. Dia menekankan bahwa kajian geologi harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi tapak.
“Kajian aspek geologi ini perlu dilakukan secara intensif dan berkelanjutan guna memperdalam seluruh parameter yang menjadi kriteria tapak PLTN. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis data lapangan, diharapkan dapat diperoleh gambaran kondisi tapak yang utuh dan akurat sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat,” terangnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Survei: Anak-anak dan remaja Inggris tertarik belajar Bahasa Indonesia
Indonesia
•
02 Nov 2020

Kisah: Dari Bali untuk dunia, pecalang dengan sukarela turut amankan KTT G20
Indonesia
•
16 Nov 2022

Fokus Berita - Menparekraf apresiasi Indonesia Travel Fair 2023
Indonesia
•
17 Jan 2023

BMKG sebut ada potensi cuaca ekstrem terjang di wilayah ini
Indonesia
•
29 Dec 2022


Berita Terbaru

Para pemimpin ASEAN prioritaskan keamanan dan ketahanan energi serta pangan di KTT Ke-48
Indonesia
•
11 May 2026

Kemiskinan ekstrem di China lenyap, jadi model pengentasan di Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Analisis – Stabilitas Selat Malaka jadi sorotan di tengah ketegangan lintasan ‘chokepoint’ global
Indonesia
•
10 May 2026

Presiden dorong ekonomi biru, Kampung Nelayan Merah Putih jadi model kemandirian pesisir
Indonesia
•
10 May 2026
